KTSP dan Kebingungan Guru

Posted: April 30, 2010 in Pendidikan

KTSP dan Kebingungan Guru

Oleh: Mustamir Anwar*

Pergantian kurikulum selain meneguhkan kurang mapannya kurikulum pendidikan kita, juga sebagai bentuk mencari efektivitas dalam pencapaian arah dan tujuan pendidikan. Secara historis kurikulum pendidikan kita paska kemerdekaan berubah sekitar 5 kali, bermula dari kurikulum 1975, 1984, 1994, KBK (2004), dan KTSP (2006). Kesemua kurikulum mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan di dunia pendidikan kita.

Pergantian kurikulum bukan tanpa masalah, Guru sebagai pengembang kurikulum pada ranah Satuan Pendidikan sampai pada kelas mengalami kesulitan dalam pengembangannya. Ketika kuliah dulu, Guru diajarkan pengembangan kurikulum sebelumnya, misalkan kurikulum 1994 dan KBK, sedangkan sekarang kebijakannya berubah menjadi KTSP. Hal inilah yang menjadi kebingungan Guru pada dataran Curriculum Development , di mana ketika kebijakan berubah, tentu terjadi perubahan juga pada pengembangannya. Akibatnya, meskipun KTSP sudah diberlakukan, akan tetapi pada dataran praktis masih menggunakan kurikulum 1994 dan KBK. Sedangkan KTSP hanya berlaku secara administrative saja, pembuatan silabus yang hanya copy-paste, RPP yang juga demikian, dan pembelajaran di kelas yang hanya begitu saja.

Seminar dan penyuluhan yang dilakukan pihak sekolah dalam sosialisasi kebijakan KTSP pun masih berputar pada ambiguitas, di mana kebijakan dari pusat, belum tentu sama ketika sudah diinterpretasikan ke daerah-daerah, lebih-lebih pada dataran sekolah. Hal ini persoalan klasik, yaitu instruksi yang kurang tepat dan pemahaman yang berbeda dari orang satu dengan yang lainnya. Pemahaman yang berbeda akan menimbulkan penyampaian dan penerapan yang berbeda pula kepada masing-masing daerah.

Begitu juga dengan masa bodonya seorang guru terhadap perubahan yang terjadi, sehingga guru tidak mau tahu tentang inovasi-inovasi yang up to date di dunia pendidikan. Dengan demikian, meskipun perkembangan dan kebijakan di dunia pendidikan seudah melesat jauh ke depan, akan tetapi dari dataran praktis kekolotan guru menjadi sebuah hambatan.

*Penulis adalah Mahasiswa Paskasarjana UNNES Prodi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Angkatan 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s