Islam; Perspektif Sosial

Posted: April 23, 2010 in Wacana Keislaman

ISLAM DAN DUNIA SOSIAL
Oleh Mustamir Anwar
Pendahuluan
Dalam sebuah Hadis, menjelaskan tentang hak-hak dalam interaksi sosial. Bagaimana hak yang harus dijaga ketika bertetangga. Dalam Hadis tersebut, Nabi menjelaskan hak seorang Muslim dengan tetangga Muslim yang mempunyai hubungan kekerabatan adalah tiga hak, sedangkan kalau tanpa hubungan kekerabatan adalah dua hak, juga kalau dengan non-Muslim adalah satu hak. Interpretasi dari Hadis tersebut merupakan wujud dari saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat. Bukannya ada pembedaan antara Muslim dengan non-Muslim, tapi lebih ke nilai plusnya, di mana dalam keluarga, agama, dan masyarakat ada hak-hak tersendiri.

Bahkan dalam lingkup luas, Nabi membentuk konsep Ummah (komunitas) sebagai pengganti kesukuan, hal itu dilakukan sebagai pemersatu Islam yang mempunyai tujuan sama, yaitu mewujudkan masyarakat harmonis, damai, yang mengedepankan nilai-nilai humanis, tidak ada perbedaan derajat di dalamnya, kecuali ketakwaan pada Tuhan.

Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dijelaskan:
1. Konsep Ummah
2. Peran Islam dalam Dunia Sosial
3. Ummah Wasathah, Sebagai Wujud Toleransi
4. Masyarakat Ideal

Pembahasan
Konsep Ummah
Dalam dunia sosial terdiri empat bagian yang saling berbeda dalam pengertiannya. Pertama, kerumunan sosial adalah sekumpulan orang yang berada di suatu tempat tanpa ada hubungan yang tetap antara satu dengan yang lainnya. Kedua, kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berhubungan secara teratur, atau dengan rumusan lain yang mengatakan bahwa kelompok sosial adalah suatu kumpulan yang nyata, teratur, dan tetap dari orang-orang yang melaksanakan peranan yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang sama. Ketiga, komunitas sosial adalah suatu kelompok territorial yang membina para anggotanya dengan menggunakan sarana-sarana yang sama untuk mencapai tujuan yang sama. Keempat, institusi sosial adalah suatu bentuk organisasi yang tersusun dari pola-pola kelakuan, peranan, dan relasi sebagai cara yang mengikat guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan dasar.
Salah satu konsep kunci Al-Qur’an dan Islam sebagai sebuah agama adalah konsep tentang komunitas (ummah). Tidak ada keraguan bahwa Islam bertujuan menciptakan suatu komunitas yang berkeadilan, yaitu suatu komunitas yang di dalamnya dimungkinkan melaksanakan Hukum Tuhan, tidak hanya hukum-hukum yang mengatur individu. Dalam perbedaan antara pihak yang menekankan keutamaan masyarakatatas individu, dan pihak yang menekankan kepentingan individu di atas masyarakat, maka Islan dalam hal ini, mengambil jalan tengah dan menganggap bahwa pertentangan itu timbul disebabkan oleh dikotomi yang tidak benar. Tidak ada masyarakat tanpa individu, yang tidak ada individu yang dapat hidup tanpa masyarakat.
Nabi berusaha menggantikan ikatan kesukuan dengan ikatan komunitas Islam (Ummah), yang didominasi oleh kebenaran wahyu Al-Qur’an. Walaupun beliau cukup berhasil, kesetiaan kesukuan tidak berarti hilang sama sekali dan sewaktu-waktu meledak dalam bentuk gerakan politik yang didasarkan pada tali kesukuan. Ketegangan antara potensi pemersatu “Islam” dan potensi-potensi pemecah dari “tribalisme” telah memperlihatkan diri dalam berbagai bentuknya di dalam sejarah Islam dan masih berlanjut dalam bentuk dan cara yang baru.
Sifat sosial manusia adalah bagian dari hikmah ciptaan Tuhan. Al-Qur’an menegaskan, tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara lima orang), melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada (QS. Al Mujadilah [58]:7). Pernyataan itu tidak hanya mengacu pada Kemahatahuan Tuhan, tatapi juga pada kenyataan yang sangat jelas tentang kehadiran Tuhan di seluruh kelompok dan perkumpulan manusia. Tuhan hadir di tengah-tengah umat manusia sebagaimana Dia selalu ada di hati atau di titik sentral tiap-tiap diri manusia.

Peran Islam dalam Dunia Sosial
Mengentaskan Perbudakan
Islam lahir di suatu tempat ketika perbudakan telah dipraktikkan secara umum dan meluas. Al-Qur’an dan Hadis mengajarkan berbuat baik kepada budak dan memberlakukan mereka sebagai manusia, serta mendorong untuk memerdekakan para budak. Nabi sendiri membeli budak bangsa Persia yang bernama Salman dan dengan segera membebaskannya, dan menjadikannya anggota keluarga. Meskipun Al-Qur’an secara hukum mengakui lembaga perbudakan, dan dalam bidang hukum menggariskan persyaratan-persyaratan tertentu yang sangat memperbaiki kondisi perbudakan (bahkan istilah “budak” dilarang oleh Nabi), namun di bidang moral beliau menyerukan kaum Muslimin agar memerdekakan budak. Hal tersebut bisa dipahami bahwa spirit yang terkandung dalam ayat-ayat tentang perbudakan adalah menghapusnya apabila kondisinya telah memungkinkan.
Banyak kaum Muslim yang alim menolak memiliki budak dan juga menulis untuk menolak praktik tersebut. Akan tetapi, praktik memiliki budak dalam bentuk yang islami, yang tujuannya adalah integrasi dan bukan pemencilan, terus berlanjut secara sporadis, tetapi semakin berkurang sampai tiba abad ke-19, praktik ini kemudian dihentikan. Jika sekarang beberapa orang menulis bahwa perbudakan masih dipraktikan di beberapa tempat, seperti Sudan dan beberapa wilayah Afrika yang lain, hal ini lebih menyerupai sistem perbudakan di pabrik-pabrik yang mempekerjakan buruh dengan gaji yang sangat rendah. Di mana pun praktik-praktik tersebut bukanlah hal yang diakui masyarakat umum dan bukan juga direstui oleh tokoh-tokoh agama. Hal tersebut banyak dilihat dalam kitab-kitab fiqh salaf yang menjadikan pemerdekaan budak sebagai prioritas dalam memilih kafarat yamin atau yang lainnya.

Mengangkat Derajat Perempuan
Dari sudut pandang Islam, perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya bersifat biologis atau psikologis, tetapi berakar pada sifat dasar ilahiyah itu sendiri. Al-Qur’an menegaskan; Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan berpasang-pasang semuanya (QS. Yasin [36]: 36), begitu juga, dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan (QS. Al-Naba’ [78]: 8). Setiap jenis kelamin sepenuhnya manusia yang dilengkapi dengan jiwa ilahiyah, dan kedua seks ini sama dalam hal tanggungjawab keagamaan mereka dan keduanya sejajar di hadapan hukum Tuhan. Namun masing-masing pihak melengkapi yang lain dan keduanya bersama-sama, seperti yin-yang dalam budaya Timur, membentuk sebuah lingkaran yang menyimbolkan kesempurnaan, totalitas, dan kelengkapan.
Al-Qur’an juga menegaskan, Mereka (istri-istri kamu) adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS. Al-Baqarah [2]: 187). Pakaian adalah benda yang paling dekat dengan tubuh, suami dan istri juga harus menjadi paling dekat bagi satu sama lainnya. Lelaki dan perempuan, keduanya saling berlomba dan juga saling tertarik satu sama lain. Alkemia perkawinan serta perpaduan seksual memiliki kekuatan untuk mengubah dan melengkapi masing-masing pihak melalui perealisasian sifat saling melengkapi dan untuk keutuhan menyeluruh melalui cinta yang melampui kedua belah pihak, tetapi melingkupi mereka, cinta yang berakar pada Tuhan.
Meskipun dalam hal perkawinan, Al-Qur’an secara hukum mengakui lembaga poligami, di sisi lain juga membatasi jumlah istri sebanyak-banyaknya empat orang dan menggariskan tuntutan-tuntutan penting yang meningkatkan nasib kaum wanita, yang secara keseluruhan sebelumnya tidaklah terlalu buruk di Saudi Arabia. Tetapi Al-Qur’an telah memperingatkan bahwa kamu tidak akan bisa berlaku adil terhadap istri-istrimu. (QS. An Nisa’ [4]: 129) dan bahwa apabila kamu takut tidak bisa berlaku adil (di antara istri-istrimu), maka (kawinilah) seorang saja. (QS. An Nisa’ [4]: 3). Dengan begitu sama saja Al-Qur’an melarang poligami. Juga kalau dibahas secara keseluruhan ayat tersebut sebenarnya menjelaskan tentang berbuat baik pada anak yatim.

Keluarga sebagai Miniatur Ummah
Secara umum, keluarga adalah kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat yang terdiri atas ibu, bapak, dan anak-anak. Keluarga merupakan konsekuensi dari wahyu Al-Qur’an yang menggantikan faktor kesukuan Arab sebagai realitas sosial paling dekat bagi individu. Salah satu pembaharuan sosial paling penting yang dibawa oleh Islam adalah penguatan tali keluarga dan ikatan perkawinan.
Dewasa ini, meskipun pengaruh modernisme telah merusak banyak institusi Islam, tetapi belum dapat merusak sistem keluarga Islam. Padahal dalam dunia Barat, sistem keluarga telah terredusir menjadi singleparent, yang mengakibatkan institusi keluarga berada pada ancaman yang serius. Hal tersebut tidak bisa lepas dari gaya seks baru, dan fungsi kaum lelaki dan perempuan yang baru pula, sebagai suatu eksperimen sosial yang tidak lengkap dan kabur, dan bukan sebagai model yang dibangun dengan ide yang jelas dan matang sehingga perlu diikuti. Lelaki dan perempuan bukan lagi saling melengkapi, tetapi keberadaannya telah digantikan. Mereka melawan kodrat mereka sendiri. Dalam institusi keluarga, Islam masih menjunjung tinggi pernikahan, yang merupakan sebuah perjanjian dibuat sesuai dengan aturan syari’ah untuk mendapatkan izin melakukan hubungan seks, serta melindungi hak-hak kedua belah pihak.

Ummah Wasathah, Sebagai Wujud Toleransi
Peran agama adalah menyelamatkan jiwa manusia, dan pada hari kiamat manusia akan diadili secara individu, tidak secara kolektif. Umat manusia akan diadili dalam hal sejauh mana komunitas tersebut mengizinkan anggotanya menjalankan kehidupan yang baik, yang berdasarkan prinsip-prinsip moral, dalam pengertian yang relegius. Secara keseluruhan, suatu umat dapat diadili dan dihukum oleh Tuhan di dunia ini, tetapi keseluruhan umat tidak dapat memasuki surga atau neraka sebagai suatu kelompok. Hanya jiwa individu yang dapat memasuki surga maupun neraka.
Islam mengakui perbedaan umat menurut afiliasi agama mereka. Orang-orang Kristen disebut sebagai umat Yesus, orang-orang Yahudi sebagai umat Musa, sebagaimana halnya kaum Muslimin membentuk umat Nabi Muhammad. Ibrahim sendiri dinamakan sebagai umat yang patuh kepada Tuhan (QS. Al-Nahl [16]: 120). Pada awalnya hanya ada satu umat, manusia dahulunya adalah satu umat (QS. Yunus [10]: 19), tetapi seiring dengan perjalanan sejarah, berbagai umat terbentuk, dan setelah itu banyak yang hilang atau hancur. Dan setiap umat memiliki suatu perangkat ibadah yang dipilihkan oleh Allah untuk mereka, dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan suatu ibadah (QS. Al-Hajj [22]: 34). Kenyatannya, tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (dapat) pula memajukannya (QS. Al-A’raf [7]: 34).
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Ayat ini dapat dipahami dengan berbagai pengertian. Dari segi teologis dan dalam rumpun agama Ibrahim, Muslim menafsirkan bahwa sementara Yahudi memberi penekanan lebih pada hukum di dunia dan Kristen pada kehidupan setelah dunia (akhirat), Islam datang memberi penekanan pada pertengahan, yaitu mengadakan keseimbangan antara alam dunia dan akhirat. Berdasarkan etika, Ummah Wasathah maksudnya adalah Tuhan memilihkan bagi Muslim cara yang paling bagus, yaitu menghindari cara berlebih-lebihan dalam perbuatan-perbuatan etika dan ibadah. Sedangkan dalam implikasi yang global, bahwa umat Islam menjadi “umat penengah” karena mereka telah dipilih oleh Tuhan untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai umat dan bangsa.
Interpretasi terakhir ini, bagaimana pun sama sekali tidak berarti bahwa umat Islam melihat diri mereka sendiri sebagai bangsa terpilih seperti umat Yahudi memahami istilah tersebut bagi diri mereka. Sebaliknya, umat Islam melihat semua umat, baik Muslim maupun non-Muslim, adalah dipilih oleh Tuhan, dengan diberikan institusi agama sendiri, dan ritual-ritual sendiri, dan mereka semua bertanggungjawab kepada Tuhan. Peran yang selalu dibayangkan oleh umat Islam, bagi diri mereka di panggung sejarah manusia sebagai “umat yang berada di tengah” tidak berarti bahwa kolektivitas manusia yang lain tidak memiliki peran pemberian Tuhan yang khusus yang harus mereka mainkan. Tidak ada pengertian atau maksud lebih lanjut tentang kopnsep diri umat Islam sebagai umat pilihan Tuhan yang dapat dibenarkan kecuali orang menjelaskan klaim “umat pilihan Tuhan” ini dengan mengetakan bahwa semua umat atau masyarakat adalah umat pilihan Tuhan, masing-masing datang ke dunia ini membawa fungsi masing-masing untuk dilaksanakan sesuai dengan Kebijaksanaan dan Kehendak Tuhan.

Masyarakat Ideal
Norma ideal masyarakat yang digambarkan Al-Qur’an dan Hadis termasuk membangun keadilan dan persamaan di depan hukum Tuhan, praktik ekonomi yang adil, distribusi kekayaan yang adil dengan tetap mengakui hak kekayaan pribadi serta mendorong kemajuan ekonomi, perlakuan yang sama kepada seluruh umat manusia (baik Muslim dan non-Muslim masing-masing hidup sebagai anggota masyarakat keagamaan mereka yang kesemuanya berada dalam suatu masyarakat Islam), dan penciptaan lingkungan sosial keagamaan yang di dalamnya keberadaan “Yang Transenden” tidak pernah dilupakan. Dalam masyarakat ini, ikatan keluarga dihormati lebih dari pada ikatan kesukuan, tetapi kebenaran adalah di atas segalanya. Al-Qur’an menegaskan, Kami wajibkan manusia untuk berbuat kebaikan kepada kedua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya. (QS. Al-Ankabut [29]: 8).
Setiap orang memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan bahwa otoritas moral terlaksana di masyarakat. Dalam masyarakat ini, menjaga perdamaian dan menjaga keharmonisan sosial merupakan prasyarat mutlak, tetapi apabila otoritas moral dipersetankan dan norma-norma agama disepelekan oleh mereka yang memiliki kekuasaan politik, pada situasi ini, ada hak untuk memberontak dan memperjuangkan pendirian kembali suatu ketenteraman yang didasarkan pada norma-norma etika dan hukum Tuhan.
Dalam masyarakat Islam ideal , hanya ketaatan, kebaikan, dan pengetahuan yang harus dijadikan kriteria untuk menghormati dan mengangkat jabatan seseorang. Tingkatan dalam masyarakat harus didasarkan pada kualitas ketaatan pada Tuhan, juga pengetahuan. Selain itu, memberi dukungan dan bantuan kepada orang-orang yang ditindas dan dirampas hak-haknya dengan berbagai cara. Juga, ajaran sosial Islam menekankan kebaikan pada budak, memperlakukan perempuan dengan sopan, dan dermawan kepada orang-orang yang menderita kerugian dan kebangkrutan ekonomi, serta kepada orang yang berhutang atau pun lainnya yang terdapat dalam masyarakat.

Analisis
Dalam masyarakat Islam belakangan, semua ajaran dan nilai-nilai di atas tidak selalu dilaksanakan secara sempurna. Tetapi sebagai ideal yang ditujukan kepada setiap generasi, ajaran-ajaran ini sangat penting diketahui untuk memahami nilai yang hidup dan berperan dalam masyarakat Islam. Jelas disadari sentiment bahwa “agama saya adalah yang terbaik” merupakan hal yang sangat diperlukan dalam setiap suasana keagamaan, dan tidak terkecuali agama Islam.
Di atas juga dijelaskan bahwa kaum Muslimin adalah umat terbaik. Tapi dalam praktik, sering ditemukan bahwa seorang Muslim seharusnya melakukan moral atau kebajikan tertentu, kenyataannya tidak ada pada mereka, tetapi justru ditemukan pada umat agama lain. Sebagai contoh, akhir-akhir ini banyak kita simak di acara-acara televisi tentang pelecehan seksual, bahkan pada anak di bawah umur, yang dilakukan oleh seorang ustadz. Bahkan ada seorang kiyai yang memperkosa santrinya sendiri dengan dalih kerasukan jin, dia melakukan hal semacam itu tanpa sadar, bukan keinginannya sendiri. Tetapi orang-orang non-Muslim justru yang banyak melakukan bakti sosial, menyumbang panti asuhan, serta bantuan-bantuan sosial lainnya.
Apa pun keadaannya, dinamika antara cita dan fakta adalah masalah yang kompleks bagi umat Islam, dan ini juga terjadi pada umat Yahudi, Kristen, maupun Hindu. Adanya masalah antara cita dan fakta ini tidak seharusnya menimbulkan sikap merasa benar sendiri atau mencela masyarakat sendiri sebagai masyarakat yang tidak memiliki kebaikan. Dan mengenai pandangan terhadap dunia Islam, dewasa ini, kedua sikap tersebut telah diperlihatkan, yang pertama oleh pihak luar Islam, dan yang kedua oleh sekelompok kecil orang dalam masyarakat Islam sendiri. Keadaan ini menggiring munculnya gerakan-gerakan dan sikap-sikap ekstrem yang sangat merugikan.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulllkan bahwa:
Nabi berusaha menggantikan ikatan kesukuan dengan ikatan komunitas Islam (Ummah).
Peran Islam dalam dunia sosial antara lain mengentaskan perbudakan yang sebelumnya merupakan suatu hal yang wajar, mengangkat derajat perempuan di mana sebelum Islam dating perempuan tidak dianggap sebagai manusia, keberadaannya dianggap wujud dari kesialan.
Ummah Wasathah maksudnya adalah Tuhan memilihkan bagi Muslim cara yang paling bagus, yaitu menghindari cara berlebih-lebihan dalam perbuatan-perbuatan etika dan ibadah.
Masyarakat ideal yang diinginkan adalah konsep tentang humanisme, persamaan derajat, tanpa adanya kaum tertindas, dan menjunjung tinggi ketakwaan pada Tuhan.

Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan sebagai pertimbangan bersama, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Selanjutnya kritik dan saran selalu kami nantikan demi terciptanya kesempurnaan pada makalah kami, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan dan kekurangan hanyalah milik kita bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim
Hossein Nasr, Seyyed. The Heart of Islam. Bandung: Mizan. 2003.
Rahman, Fazlur. Islam. Bandung: Pustaka. cet. V. 2003.
Hendropuspito. Sosiologi Sistematik. Yogyakarta: Kanisius. 1989.
Abdullah Hamed, Hakim. Aspek-Aspek Pokok Agama Islam. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. 1983.

Endnote
Drs. D. Hendropuspito QC, Sosiologi Sistematik, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hal., 34.
Dalam Islam, Ummat (komunitas), makna dasarnya adalah suatu kolektivitas atau kumpulan manusia yang disatukan oleh tali agama, dan agama di dalamnya berfungsi sebagai fondasi bagi hubungan sosial, hukum politik, ekonomi, dan etika di antara anggota-anggotanya. Jelasnya lihat Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, Bandung: Mizan, 2003, hal., 193.
Ibid., hal. 208
Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Pustaka, cet. v, 2003, hal. 340.
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 219
Lebih jelasnya lihat Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 89.
Al-Qur’an Al-Karim
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 227.
Kekerabatan menurut pandangan sosiologis adalah hubungan darah atau keturunan, tetapi bisa diartikan secara sempit yang meliputi orang tua dengan anak-anaknya. Hakim Abdullah Hamed, Aspek-Aspek Pokok Agama Islam, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1983, hal. 20.
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 220.
Al-Qur’an Al-Karim
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 195.
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 203.
Seyyed Hossein Nasr, Op. Cit., hal. 204.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s