halaman download

Posted: April 19, 2010 in Uncategorized

PENDEKATAN PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM
Oleh: Samsudi

A.Pendekatan dalam Pengembangan Kurikulum
Dalam beberapa literature dijelaskan bahwa model-model pengembangan kurikulum pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar, yaitu: pertama, model pengembangan yang berkaitan dengan sistem pendidikan/pengelolaan kurikulum yang diterapkan. Dalam kelompok ini dikenal tiga pendekatan, yaitu: (1) The administrative/line staff; (2) Grass-roots; dan (3) The demonstration. (Sukmadinata, 1997:161-170)

The line staf atau administrative pada umumnya diterapkan dalam sistem pendidikan yang bersifat sentralistik. Dalam pendekatan ini inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administratur pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administratur pendidikan (dirjen, direktur atau kepala kantor wilayah pendidikan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijakan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum.
Sebaliknya, Grass-root dan The demonstration pada umumnya diterapkan pada sistem pendidikan yang bersifat desentralistik. Dalam pendekatan ini seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya-upaya pengembangan kurikulum. Penyempurnaan dan pengembangan tersebut dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Dalam konteks yang sama, Jackson (1991: 413) menyebut sebagai pendekatan mutual adaptation. Ciri pokok pendekatan ini adalah bahwa pelaksana kurikulum di lapangan (guru, konselor, kepala sekolah) sekaligus juga sebagai pengembang kurikulum, sehingga memiliki kewenangan untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riil, kebutuhan, dan tuntutan perkembangan secara kontekstual. Jackson berpandangan bahwa pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa pada kenyataannya kurikulum tidak pernah benar-benar dapat diimplementasikan sesuai rencana, namun perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat. Adaptasi juga dapat dilakukan selama proses implementasi (pembelajaran) berlangsung. Sedangkan Print (1993: 13) menyebut sebagai modifikasi kurikulum (curriculum modification), sebelum sebuah desain kurikulum diterapkan di lapangan (kelas, sekolah). Dalam pandangannya, modifikasi dalam implementasi sebuah desain kurikulum merupakan tahapan yang sangat perlu dilakukan. Demikian juga ukuran kesuksesan sebuah implementasi kurikulum pada dasarnya dapat dilihat dari sejauh mana pengembang kurikulum memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan modifikasi sesuai kebutuhan lapangan. Dengan begitu, kurikulum yang diimplementasikan di lapangan memiliki peluang diterapkan secara lebih luwes sesuai dengan kebutuhan yang bersifat kontekstual, namun tetap memiliki kriteria keberhasilan secara memadai.
Kedua, model pengembangan kurikulum yang berkaitan dengan fokus isi/substansi kurikulum. Dalam hubungan ini dikenal beberapa pendekatan yaitu: (1) Subject academic curriculum, yang berfokus pada bahan ajaran yang berasal dari disiplin ilmu; (2) Humanistic curriculum, yang menekankan keutuhan pribadi, serta kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan siswa; (3) Technological/competence based curriculum, menekankan penguasaan kompetensi, dan dalam proses pembelajaran/diklat dibantu dengan alat-alat teknologis; dan (4) Social reconstruction curriculum, yang berfokus pada masalah sosial dan dalam pembelajarannya menekankan belajar kelompok.

B. Pendekatan dalam Implementasi Kurikulum
Pendekatan-pendekatan implementasi kurikulum yang berkembang hingga saat ini pada dasarnya berpijak dari pandangan/orientasi dalam menempatkan/memposisikan hubungan antara kurikulum dengan siswa sebagai subjek pembelajar. Artinya bahwa pendekatan implementasi kurikulum dalam bentuk kegiatan belajar mengajar sangat bergantung kepada konsep orientasi dalam menempatkan hubungan antara kurikulum dengan peserta didik dan pendidik itu sendiri. Dalam penjelasan Miller and Seller (1985:6-8) terdapat tiga orientasi yang mendasari suatu penyelenggaraan pembelajaran sebagai suatu aktivitas implementasi kurikulum, yakni: (a) orientasi transmisi (transmission position); (b) orientasi transaksi (transaction position); dan (c) orientasi transformasi (transformation position).
Orientasi transmisi (transmission position), yang memandang bahwa pendidikan dan pembelajaran adalah proses meneruskan (to transmit) fakta-fakta, keterampilan dan nilai-nilai kepada peserta didik, akan memperlihatkan implementasi kurikulum pembelajaran yang bersifat pengalihan pengetahuan, informasi maupun nilai-nilai dari guru kepada siswa. Dalam konteks ini siswa bersifat pasif dan menunggu untuk kemudian memberikan respon terhadap instruksi dari guru berkaitan dengan pengetahuan dan informasi yang dialihkan guru. Secara filosofis dikatakan bahwa Pendidik transmisi perhatiannya bukan untuk mengembangkan potensi pribadi peserta didik, melainkan untuk mempertahankan keadaan tetap pada suatu saat tertentu.
Sedangkan orientasi transaksi (transaction position), yang memandang bahwa pendidikan dan pembelajaran adalah proses dialog antara peserta didik dengan kurikulum serta proses rekonstruksi pengetahuan secara terus menerus, sehingga akan menuntut model implementasi kurikulum yang menekankan kepada partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran.
Orientasi transformasi (transformation position), yang memandang bahwa kurikulum dan pembelajaran adalah wahana mengembangkan pribadi dalam dimensi individu dan sosial secara holistik. Dengan demikian pendidik dalam implementasinya memfokuskan pada perkembangan pribadi dan kelompok, serta memfasilitasi/menciptakan kondisi yang diperlukan untuk suatu perubahan yang positif. Secara konseptual, keterkaitan antara kurikulum, peserta didik dan pendidik/guru dalam suatu lingkungan pendidikan dan pembelajaran yang mencirikan ketiga orientasi tersebut, digambarkan sebagai berikut (Miller and Seller, 1985:6-8):

Bagan 1 : Orientasi dalam Implementasi Kurikulum
Pembelajaran berbasis kompetensi dalam implementasi kurikulumnya memiliki ciri sebagai berikut:
(a) menekankan isi berupa kompetensi;
(b) kompetensi dirinci menjadi sasaran belajar yang hasilnya dalam bentuk perilaku/tindakan yang dapat diamati/diukur;
(c) bahan pelajaran disusun dalam bentuk media cetak, modul atau pengajaran berprograma;
(d) penyusunan kurikulum dan perangkatnya dilakukan oleh ahli.

Namun demikian, implementasi kurikulum juga tidak lepas dari orientasi transaksi, karena ciri dalam orientasi transaksi adalah:
(a) siswa adalah subjek didik dan merupakan pemeran utama pendidikan;
(b) isi bahan pembelajaran dirancang sesuai kebutuhan dan minat siswa;
(c) tidak ada kurikulum standar, yang ada kurikulum minimal;
(d)proses pembelajaran menekankan aktivitas inkuiri-diskaveri, serta pemecahan masalah.

Suatu desain model kurikulum untuk dapat dilaksanakan secara maksimal di lapangan, memerlukan pilihan pendekatan implementasi yang sejalan dengan karakteristik kurikulum itu sendiri, serta karateristik pengguna/pelaksana. Hal ini sejalan dengan pandangan tentang impelementasi kurikulum, yang menyebutkan bahwa implementasi kurikulum pada dasarnya merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran, yang keberhasilannya setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: (a) karakteristik kurikulum; (b) strategi implementasi; dan (c) karakteristik pengguna/pelaksana di lapangan. Pendekatan dalam implementasi kurikulum dijelaskan oleh Jackson (1991: 404) ada tiga yaitu: (1) fidelity perspective; (2) mutual adaptation; dan (3) curriculum enactment. Secara lebih rinci dijelaskan sebagai berikut:

a. Fidelity Perspective
Suatu rancangan kurikulum yang telah dikembangkan berdasarkan pendekatan dan pertimbangan tertentu dan telah menjadi suatu desain model, pada gilirannya harus dilaksanakan/diimplementasikan di lapangan (di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya). Menurut perspektif Fidelity, desain (rancangan) kurikulum (curriculum construction) adalah rujukan utama dalam implementasi kurikulum. Pendekatan fidelity berangkat dari prinsip kurikulum sentralistik (centralized curriculum), yang menggariskan bahwa desain kurikulum yang dikembangkan oleh pusat adalah sesuatu yang terstandar dan siap diterapkan tanpa harus dilakukan penyesuaian. Sehingga karakteristik utama pendekatan ini menurut Sukmadinata (2002:3) adalah para pelaksana kurikulum di sekolah (guru, kepala sekolah, administrasi pendidikan atau stakeholders terkait) berupaya mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan desain yang telah ditetapkan secara standar.
Dengan menempatkan posisi kurikulum seperti tersebut, maka menurut perspektif Fidelity, dalam pelaksanaannya para guru, kepala sekolah dan adminsitratur pendidikan perlu secara konsisten merujuk kepada rancangan (desain) kurikulum yang telah dirumuskan oleh pusat.

b. Mutual Adaptation
Ciri pokok pendekatan ini adalah bahwa dalam implementasinya pelaksana kurikulum mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riel, kebutuhan, dan tuntutan perkembangan secara kontekstual. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa berdasarkan temuan empirik, pada kenyataannya kurikulum tidak pernah benar-benar dapat diimplementasikan sesuai rencana, namun perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat (Jackson, 1991: 428). Menurut Jackson, pendekatan mutual adaptation pada dasarnya merupakan ciri penting dalam sebuah implementasi dan implementasi kurikulum. Bahkan beberapa peneliti tentang implementasi kurikulum memandang bahwa adaptasi merupakan kesepakatan pragmatis dalam implementasi dan implementasi kurikulum. Para peneliti yakin bahwa mutual adaptation adalah bagian penting dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, karena tidak hanya aspek penerapan yang diperhatikan, tetapi juga bagaimana kurikulum dapat dikembangkan dan dikelola agar berperan dalam proses pembelajaran. Menurut pendekatan ini, desain dan isi kurikulum dirancang di luar konteks pembelajaran, kemudian dalam implementasinya diadaptasi oleh guru sebagai sebuah pengembangan dengan konteks lokal. Adaptasi juga dapat dilakukan selama proses implementasi berlangsung.
Pandangan di atas menegaskan bahwa modifikasi, adaptasi, maupun inovasi dalam penerapan dan implementasi kurikulum adalah persoalan penting (esensial), sebab sebuah kurikulum tidak akan pernah benar-benar dapat diimplementasikan sesuai desain, sehingga perlu dilakukan penyesuaian dan pembaharuan untuk memperoleh hasil secara maksimal. Dengan demikian, pengembangan model penyusunan dan implementasi kurikulum pada dasarnya dapat dilakukan melalui modifikasi, adaptasi, inovasi, atau gabungan dari dua atau ketiganya dalam penerapan suatu kurikulum.
Salah satu pendapat yang sejalan dengan pandangan tersebut dijelaskan oleh Print (1993: 87) sebagai berikut :
” In the early stage of implementation it is likely that modifications will be made of the curriculum. …. The degree of successful implementation will reflect to large measure the ability and willingness of developers to accomodate modification to their curriculum”.

Dengan demikian, modifikasi dan pembaharuan dalam implementasi dan implementasi kurikulum merupakan tahapan yang sangat perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Demikian juga ukuran kesuksesan sebuah implementasi dan implementasi kurikulum pada dasarnya dapat dilihat dari sejauh mana pengembang kurikulum memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengakomodasi kemungkinan dilakukannya modifikasi dalam kurikulum yang dirancang.
Sebagai suatu rencana tertulis pembelajaran, implementasi kurikulum perlu memberikan peluang dilakukannya modifikasi dan penyempurnaan, sehingga pelaksana di lapangan memiliki keluwesan dalam menyusun rencana program (pembelajaran), melaksanakan, maupun melakukan evaluasi hasil pembelajaran. Seperti dijelaskan oleh Print (1993: 217-218) bahwa dalam implementasi kurikulum semestinya perlu diberikan peluang untuk dilakukan beberapa modifikasi, sebab sangat mungkin terjadi perbedaan antara rancangan dengan faktor-faktor yang bersifat lokal dan kontekstual, seperti perbedaan individual siswa, perbedaan sumber-sumber sekolah, perbedaan guru, variasi keadaan orang tua, serta dukungan masyarakat sekitar.

c. Enactment Curriculum
Pendekatan ini memiliki perbedaan dengan fidelity perspective dan mutual adaptation, dengan ciri utama pelaksana kurikulum melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pelaksanaan kurikulum. Secara konseptual, pendekatan ini mendasarkan kepada prinsip bahwa implementasi kurikulum adalah suatu proses, yang di dalamnya akan berinteraksi berbagai faktor penentu.
Sejalan dengan penjelasan tersebut, Jackson (1991:429) menguraikan bahwa perspektif enactment curriculum memandang bahwa rencana program (kurikulum) bukan merupakan produk atau peristiwa (pengembangan), melainkan sebagai proses yang berkembang. Perencanaan program yang dilakukan di luar (eksternal), dipandang merupakan sumber bagi guru untuk menciptakan kurikulum sebenarnya yang diterapkan dalam pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Mereka (para guru) adalah creator dalam implementasi kurikulum. Dalam perspektif enactment curriculum, kurikulum sebagai proses akan tumbuh dan berkembang dalam interaksi antara guru dan siswa, terutama dalam membentuk kemampuan berfikir dan bertindak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s