DINAMIKA NILAI JAWA ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS

Posted: April 19, 2010 in Wacana Keislaman

DINAMIKA NILAI JAWA ISLAM
DAN TANTANGAN MODERNITAS

Oleh Mustamir Anwar

Pendahuluan
Sejak zaman prasejarah, masyarakat Jawa telah memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme merupakan suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuhan, hewan, dan juga pada manusia sendiri.1 Sedangkan kepercayaan dinamisme, bahwa orang Jawa ketika ityu mempercayai semua benda yang bergerak dianggap hidup dan memiliki kekuatan gaib atau memiliki roh yang berwatak baik atau buruk.

Ketika Islam masuk di Jawa, masyarakatnya sudah mempunyai kebudayaan yang amat kuat. Kebudayaan ini merupakan manifestasi kepercayaan Hindu-Budha. Seperti pemujaan terhadap leluhur, dalam Hindu-Budha pemujaan pada leluhur menggunakan kemenyan, sesaji, kemudian dibacakan mantra-mantra. Setelah Islam datang, ritual tersebut tidak dihilangkan sama sekali, tetapi disisipi dengan nilai-nilai Islam seperti Yasinan, Tahlilan, dan sebagainya. Sehingga muncul apa yang dinamakan Jawa Islam.
Pada pembahasan makalah kami ini, akan mencoba mendiskripsikan tentang dinamika nilai Jawa Islam, bagaimana perpaduan nilai budaya Jawa dengan Islam, dan tantangan modernitas terhadap nilai-nilai Jawa Islam.

Rumusan Masalah
1.Bagaimana perpaduan nilai budaya Jawa dengan Islam?
2.Enkulturasi nilai budaya Jawa Islam?
3.Tantangan modernitas terhadap nilai budaya Jawa Islam?

Pembahasan
Perpaduan Nilai Budaya Jawa dengan Islam
Perubahan suatu lingkungan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan, dan perubahan kebudayaan dapat pula terjadi karena mekanisme lain, seperti munculnya penemuan baru atau invention, difusi, atau akulturasi. Suatu perubahan yang terjadi mengaharuskan perlunya ,odifikasi pola tingkah laku. Dalam mengahadapi lingkungan fisik, manusia cendrung mendekatinya melalui budaya yang dimiliki, yaitu sistem simbol, makna, dan sistem nilai (M. D. Sahlins, 1977). Karenanya suatu diskripsi tentang konsepsi kebudayaan sebagai hasil adaptasi, sebagai akibat tekanan ekologis dan demografis, kurang melihat arti penting sistem simbolik yang biasanya dipergunakan manusia untuk memecahkan masalah yang mendasarkan kerangkan berfikir mereka.
Pada hakikatnya suatu sistem (budaya) berada pada keadaan stabil dan relatif seimbang, terutama jika terjadi hubungan antar struktur dan berbagai proses yang berlangsung dalam suatu sistem. Artinya, apabila terjadi suatu hubungan antara sistem (budaya) dan lingkungannya bisanya cenderung menjaga sifat-sifat yang menyeimbangkan.2 Dalam sosiologi dikenal istilah social planning (Fair Child, 1959: 282): guna memberikan pengertian bahwa adakalanya suatu perubahan sosial yang terjadi adalah sebagai akibat dari sesuatu yang direncanakan, demikian pula dapat terjadi sebagai akibat yang tidak direncanakan.
Islam masuk ke Jawa, masyarakat telah memiliki kebudayaan yang mengandung nilai yang bersumber dari animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Selanjutnya yang dimaksud dengan nilai ialah ‘…is a normative patterns which defines desirable behaviour for a sistem in relation to its environment, without differention a term of the functional of unit or of their particular situations’ (T. Parsons, 1973: 75). Artinya suatu perbedaan karakter tanpa membedakan fungsi dari kesatuan ataupun situasi. Dengan kata lain ia selalu terangkum dalam segala prilaku dan bahkan menjadi titik tolak dalam menentukan kerangka berfikir.
Dengan msuknya Islam di tanah Jawa, perpaduan antara unsur-unsur pra Hindu, Hindu-Budha, dan Islam terjadi pada waktu berikutnya. Islam dengan beberapa unsur budaya Jawa terdahulunya terdapat noktah kesamaan. Nilai budaya pra Hindu yang animistis dan magis sejalan dengan Hinduisme dan Budhisme yang bercorak relagius magis. Sewaktu budaya jawa yang animistis magis bertemu dengan unsur budaya Islam yang monotheistis, maka terjadilah pergumulan yang menghasilkan Jawa Islam yang sinkretis dan islamis yang puritan. Di kalangan Jawa Islam inilah tumbuh dan berkembangnya budaya Jawa Islam, yang memiliki ciri bagian luar adalah Jawa sinkretis. Islam digambarkan sebagai ’wadah’ sedangkan ’isinya’ adalah Jawa.3
Menurut pendapat Sahlins tentang adaptasi dalam persebaran budaya, Frans Magnis Suseno menilai bahwa hal itu juga terjadi pada masyarakat Jawa. Menurutnya, Jawa mmiliki ciri khas (nilai) yang lentur dan terbuka walaupun suatu saat terpengaruh unsur kebudayaan lain, tetapi kebudayaan Jawa masih tetap dapat dipertahankan keasliannya. Meski secara hakikat nilai tersebut dipertahankan secara simbolik. Dengan demikian inti budaya Jawa tidak larut dalam Hinduisme dan Budhisme, tetapi juga unsur budaya impor tersebut dapat dijawakan.
Selain dari sifat dasar budaya yang terbuka, perpaduan nilai budaya Jawa Islam tidak terlepas sikap toleran Walisongo dalam menyampaikan ajaran Islam ke tengah masyarakat Jawa yang telah memiliki keyakinan pra Islam yang sinkretis itu. Dengan metode manut milining banyu para wali membiarkan adat istiadat Jawa tetap hidup, tetapi diberi warna nilai keislaman, seperti acara sesajen diganti kenduri atau selametan. Sesajen yang mulanya disertai mantra, kemudian dalam selametan dialihkan untuk membaca kalimah thayyibah.4 Sebenarnya konsepsi perkawinan budaya Jawa Islam banyak terjadi di sekitar kita. Namun terkadang kita tidak sadar akan kenyataan yang seperti itu. Karena salah satu bentuk penyebaran budaya bisa melalui cerita tutur yang turun-temurun dari nenek moyang tanpa harus melewati pengkajian lebih mendalam tentang hakikat yang diajarkan. Pada gilirannya kopnsepsi yang diwariskan itu berakar urat menjadi sebuah mitos. Mitos yang kadang konsepsi tersebut tidak bisa dinalar secara logika yang sehat. Meskipun itu membaw suatu nilai yang tidak kita sadari pula.
Kemudian orang Jawa mengenal beberapa macam jenis puasa, seperti mutih, patigeni, ngebleng, dan sebagainya yang meruipakan bentuk dari tirakat. Di antara puasa itu ada yanmg disertai dengan dzikir yang diambil dari asmaul husna seperti puasa yang dilakukan pada hari Jum’at, dengan tidak memakan nasi sehari semalam disertai dzikir ’Ya Kafiyyu’ sebanyak 103 kali dalam semalam. Orang yang melakukannya dipercaya akan mendapatkan anugrah dari Tuhan. Dalam buku Serat Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, ritual perpaduan Jawa Islam yang lainnya bisa ditemukan.
Di samping bentuk akulturasi, ada pula nilai budaya Jawa yang terpadu dengan nilai budaya Islamdalam bentuk asimilasi, di mana unsur dua budaya itu dapat menyatu dan tidak dapat dipisahkan, misalnya; gapura.5 Bentuk gapura itu tidak mengalami perubahan pada budaya Jawa atau Islam. Gapura yang terletak pada tempat ibadah umat Hindu (pura) tidak berbeda dengan apa yang ada di masjid maupun makam-makam.

Enkulturasi Nilai Budaya Jawa Islam
Dalam masyarakat tradisional tiap individu tidak bisa dipisahkan dari lingkungan mereka. Mereka makhluk sosial yang berhubungan dengan alam lingkungan secara langsung irama alam, yaitu irama musim-musim merupakan irama hidup pula. Alam individu-individu dalam masyarakat terikat akrab dengan alam semesta dan kekuatan-kekuatannya. Orang berpartisipasi dalam keseluruhan yang berarti hidup yang secara mental mereka tidak bisa lepas dari padanya. Kondisi manusiawi ini diformulasikan secara sempurna oleh wujud kebudayaan yang berupa pikiran-pikiran. Konsepsi semacam ini dilambangkan dengan hukum adat.6 Formulasi adat dari kesadaran itu menjadi suatu kosmologi, tata tertib suci, dan makam kondisi itu. Manusia tidak boleh menyimpang daripadanya dalam kehidupan dan masyarakat. Orang harus taat, konserfatif, dan relegius. Kemajuan masyarakat berarti kemajuan kehidupan, ya’ni pengertian relegius dan kosmologis.
Ditinjau dari kepatuhan terhadap norma-norma beserta sanksinya, terdapat dua kategori norma, yaitu tata cara (folkways) dan adat istiadat (mores). Tata cara adalah suatu rangkaian perbuatan yang juga telah membaku dalam pelaksanaan suatu jenis adat. Dengan kata lain tata cara itu pada dasarnya hanya merupakan rincian teknis pelaksanaan adat. Sedangkan definisi adat berdasar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) ialah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Dapat disimpulkan bahwa adat bersifat lebih kompleks, yang menyangkut berbagai nilai.
Pelanggaran terhadap norma yang berupa tata cara, jika dilanggar tidak memiliki sanksi hukum yang berat, pada umumnya hanya menjadi bahan gunjingan. Misalnya makan dengan tangan kiri. Berbeda dengan pelanggaran adat istiadat yang dapat dikenai hukum adat. Sanksi resmi boleh dikata tidak ada, namun hukum adat yang diakui masyarakat pemaikainya secara turun temurun. Jadi bagi pelanghgar adat hukumannya lebih bertsifat moral yang mengakibatkan ketegangan mental bagi pelakunya. Misalnya tidak melakukan selametan pada peristiwa yang terkait denga siklus kehidupan, misalnya; mitoni, brokohan, ruwatan, khitanan, perkawinan, kematian, dan sebagainya. Pelanggaran ini dapat menimbulkan kekhawatiran akan datangnya malapetaka yang menimpa diri maupun keluarga.
Enkulturasi nilai budaya Jawa Islam selain dilakukan secara individual oleh masyarakat, namun dilakukan juga oleh penguasa istana. Seperti contoh Sultan Agung, mengislamisasi budaya Jawa melalui penggantian kalender tahun Saka menjadi tahun Jawa. Tahun Jawa ialah adopsian hitungan kalender Hijriyah. Usaha islamisasi budaya Jawa tersebut dilanjutkan dengan sosialisasi sehingga budaya Jawa Islam tersebar secara luas di kalangan masyarakat keturunannya, yaitu raja-raja Surakarta dan Yogyakarta padea abad 19, di antaranya melalui serat-serat yang memuat ajaran moral maupun mistik Jawa yang dipadukan dengan Islam.
Memang pada zaman Jawa kuno pendidikan humaniora mendapat utama soal-soal kesustraan tidak menjadi monopoli kelas profesional saja. Pendidikan kesustraan merupakan pendidikan yang harus diikuti oleh umum, lebih-lebih kalangan istana. Kesadaran menenai makna penting ilmu bahasa, sastra, sejarah, antropologi, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan, dan tata negara dalam perspektif budaya Jawa memberikan inspirasi para pejabat untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pendidikan pada saat itu yang berwujud padepokan dan peguron.7
Kesustraan inilah salah satu produk budaya yang mengandung daya pelestari dan stimulasi. Semua karya sastra tersebut langsung atau tidak langsung telah ikut membentuk dan memelihara atau mengawetkan corak khas, budaya, dan pandangan hidup Jawa sekarang ini.8 Meskipun tidak secara komprehensif ajaran-ajarannya dapat diaplikasikan dengan sempurna. Hal ini kembali terkait dengan teori budaya terbuka dan bersifat dinamis sesui konteks kehidupan yang terus berdinamika.

Nilai Budaya Jawa Islam di Tengah Modernitas
Modernisasi berarti progress. Progress sendiri merupakan suatu proses yang mana orang makin lama makin lebih menguasai alam kebendaan. Progress itu adalah dinamika, yaitu suatu proses yang berputar terus menerus. Modern bukan berarti mengubah keadaan tradisional, melainkan berarti pembukaan dimensi-dimensi hidup yang baru. Modern adalah suatu sikap, pola berpikir, cara menghadapi dunia dan kehidupan manusiawi. Sehingga manusia modern berciri memiliki keterbukaan terhadap ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesungguhan untuk merencanakan, percaya bahwa manusia dapat menguasai alam, bukan sebaliknya.9
Dalam proses perubahan kebudayaan, ada unsur-unsur kebudayaan yang mudah berubah dan yang sukar berubah. Dalam salah satu tulisannya, R. Lington (1936) membagi kebudayaan meliputi bagian yang tampak atau overt culture (perwujudan kebudayaan) dan bagian yang tidak tampak disebut covert culture (inti kebudayaan). Bagian inti terdiri dari sistem nilai budaya, keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, bebrapa adat yang mapan dan tersebar luas di masyarakat. Bagian inti kebudayaan sulit berubah, seperti keyakinan agama, adat istiadat, maupun seni budaya. Sementara wujud kebudayaan yang merupakan bagian luar (fisik) dari kebudayaan, seperti alat-alat atau benda-benda hasil seni budaya, mudah berubah.
Dalam konteks terjadinya perubahan ke arah modernisasi yang berciri rasionalistis, materialistis, dan egaliter, maka nilai budaya Jawa dihadapkan pada tantangan budaya yang global dan pluralistik. Jawa Islam mempunyai nilai keuniversalan yaitu nilai spiritualnya yang relegius magis. Nilai spiritual itu ternyatakan pada acara selametan dan wetonan dengan membuat bubur abang putih. Ketenangan batin mereka terusik jika tidak melakukan selametan, apalagi yang berkaitan dengan siklus kehidupan.
Adapun adat istiadat Jawa yang telah mengalami pergeseran nilai dan dipandang tidak magis lagi, tetapi sekedar bernilai seni, misalnya rangkaian acara dalam pernikahan, seperti tarub, siraman, midoduren, kacar-kucur, dan sebagainya.
Dengan sifat budaya yang lentur, diharapkan nilai-nilai budaya Jawa Islam yang luhur masih dapat bertahan. Sewaktu harus berhadapan dengan unsur budaya modern yang global. Dalam komunikasi antar budaya yang pernah terjadi antara budaya Hindu, Budha, dan Islam, ternyata tidak menyebabkan budaya Jawa luntur, tetapi justru diperkaya dan diperhalus, melalui proses asimilasi dan akulturasi.10

Kesimpulan
1.Pada waktu budaya Jawa yang animistis magis bertemu dengan unsur budaya Islam yang monotheistis maka terjadilah pergumulan yang menghasilkan Jawa Islam yang singkretis dan Islam yang puritan. Kemudian Islam digambarkan sebagai ”wadah” sedangkan ”isinya” adalah Jawa. Dalam nilai budaya Jawa yang terpaku dengan nilai budaya Islam yaitu di anataranya dalam bentuk akulturasi dan asimilasi.
2.Dalam enkulturasi nilai budaya Jawa Islam kalau ditinjau dari sisi kepatuhan terhadap norma-norma beserta sanksinya, terdapat dua kategori norma yaitu tata cara (flok ways) dan adat istiadat (mores). Kemudian enkulturasi nilai budaya Jawa Islam selain dilakukan secara individual oleh masyarakat, jika didukung oleh penguasa istana.
3.dalam konteks terjadinya perubahan ke arah modernisasi yang berisi rasionalistis, materialistis, dan legaliter, maka nilai budaya Jawa dihadapkan pada tantangan budaya yang global dan plural.

Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan sebagai pertimbangan bersama, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Selanjutnya kritik dan saran selalu kami nantikan demi terciptanya kesempurnaan pada makalah kami, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kekurangan hanyalah milik kita bersama.

DADTAR PUSTAKA
Amin, Darori, Drs. H. M.A. (Ed). Islam dan Kebudayaan Jawa. (Yogyakarta: Gama Media. 2002).
Poerwanto, Hari, Dr. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000).
Mulder, Niels. Kebudayaan Jawa dan Pembangunan Nasional. (Yogyakarta: Gajah Mada Press. 1974).
Purwadi, Dr. Sosiologi Mistik. (Yogyakarta: Persada. 2003).
Sujanto, Ir. Refleksi Budaya Jawa. (Semarang: Dahara Prize. 1992).

Endnote
1. Drs. H. Darori Amin, M.A. (Ed), Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), Cetakan ke-2, hal. 6
2. Dr. Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hal. 88
3. Drs. H. Darori Amin, M.A. (Ed), Op. Cit., hal. 278-279
4. Ibid, hal. 282
5. Ibid
6. Niels Mulder, Kebudayaan Jawa dan Pembangunan Nasional, (Yogyakarta: Gajah Mada Press, 1974), hlm. 54
7. Dr. Purwadi, Sosiologi Mistik, (Yogyakarta: Persada, 2003), hlm. 81
8. Ir. Sujanto, Refleksi Budaya Jawa, (Semarang: Dahara Prize, 1992), hlm. 141
9. Niels Mulder, Op. Cit.
10. Sri Suhandiyati, Log. Cit., hlm. 289

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s