Reformasi Pendidikan

Posted: April 16, 2010 in Pendidikan

Bukan Hanya Sekolah!
Oleh: Mustamir Anwar*

Ngomong soal pendidikan memang gak ada habisnya, banyaknya persoalan yang menyelimuti pendidikan kita, mulai dari paradigma, sistem, materi, metode, dan seabreg masalah lainnya membuat para praktisi pendidikan kuwalahan. Pendidikan yang seharusnya merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Keberadaannya malah tidak begitu diperhatikan. Pendidikan dijadikan sebagai ladang penanaman ideologi-ideolgi tertentu guna mengukuhkan ideologi penguasa. Makanya pendidikan kita dianggap sebagai komoditas menjanjikan dalam melestarikan kemapanan-kemapanan yang telah ada. Nyatanya, ganti menteri, ganti juga sistem dan kurikulum. Kegagalan demi kegagalan kita petik sebagai hasil dari konsep pembaharuan pendidikan yang tidak berkesinambungan. Kebijakan bongkar pasang dari sistem pendidikan, tidak membawa kita ke mana-mana, kecuali hanya berputar-putar dari situ ke situ saja.

Pendidikan menjadi sarana strategis dalam meningkatkan kualitas suatu bangsa! Makanya kemajuan suatu bangsa bisa diukur dari kemajuan pendidikannya. Faktanya kemajuan beberapa negara dunia ini tidak terlepas dari kemajuan yang dimulai dari pendidikannya. Rasionalisasi semacam itu juga diyakini oleh bangsa ini, namun pada kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia belum menunjukkan keberhasilan yang diharapkan. Pendidikan masih belum berhasil menciptakan sumber daya manusia yang handal, apalagi meningkatkan kualitas bangsa.
Keruwetan ini tampak dari belum adanya platform fundamental yang dapat dijadikan patokan dalam pelaksanaan program pendidikan. Masih banyak gagasan yang bersifat instan dan tanpa konsep dijadikan dasar pengembangan pendidikan. Nyatanya, kita hanya mengekor pada sistem luar negeri. Sistem luar menggunakan independensi sekolah (negara gak mau turut campur lagi), eh, Indonesia ikut-ikutan. Bukannya mereka berpikir negara kita ini bagaimana. Masak mau menyamakan negara maju sama negara berkembang, malah menciut. Belum ada formula yang berhasil diciptakan untuk mengatasi keruwetan tersebut, karena banyak yang tidak menyadari bahwa untuk mengurangi keruwetan itu sendiri harus menemukan ujung pangkal masalahnya. Yach, keruwetan-keruwetan ada pada yang namanya “SEKOLAH”.

Tokoh-Tokoh Dunia
Dalam sebuah diskusi, salah seorang teman saya pernah mengutarakan sebuah pernyataan yang membuat saya kontan membelalakkan mata, sampai mengerutkan kening. “Sekolah itu membelenggu, membunuh kreativitas, sekolah justru membodohkan, mengubah manusia menjadi robot” katanya. Saya mengumal dalam hati “bukankah dia bisa omong seperti itu, juga karena sekolah!”. Memang waktu itu sedang membahas Ivan Illich, tokoh pendidikan yang kecewa dengan sekolah. Entah apa alasannya, kenapa dia (sebagai produk sekolah) justru malah membenci sekolah (dengan lontarannya “belenggu sekolah”). Atau malah sebenarnya dia ingin mempromosikan sekolah lewat bahasa politisnya itu, memang seolah-olah dia mengolok-olok sekolah, tapi dengan begitu orang akan penasaran, apakah benar sekolah semacam itu? Sehingga mereka ingin merasakan pendidikan di sekolah. Memang tidak ada yang tau persis maksud pernyataan Illich itu, kenapa harus dipikirin, toh itu terserah dia, mau omong seperti apa kek. Bukankah dia punya kepentingan sendiri kenapa sampai omong seperti itu, toh yang tau juga dia sendiri.
Tidak hanya Illich saja, banyak kok orang-orang besar lain. Misalnya Orang Asia pertama yang meraih penghargaan Nobel di bidang kesusastraan, ya… Rabindranath Tagore, seorang yang sangat berani mengungkapkan isi hati. Kenapa tidak! nyatanya pada tahun 1924 dia berceramah di hadapan guru-guru “sekolah adalah sejenis siksaan yang tak tertahankan” katanya. Bukankah dengan begitu seolah-olah dia berkata “kalian suka menyiksa murid-murid kalian, dengan jejalan-jejalan pengetahuan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan”. Bahkan dalam novel The Home and the World, Tagore berteriak “dunia tidak akan membosankan seperti ini seandainya tidak ada guru sekolah yang membuat kita muak”. Lain lagi dengan Margaret Mead, dia menceritakan larangan neneknya tentang pendidikan “nenek ingin aku berpendidikan, makanya ia melarangku bersekolah”. Pernyataan yang aneh bukan! Ingin berpendidikan malah dilarang sekolah, beda dengan kita. Begitu pun dengan Neil Postman yang mengatakan bahwa pendidikan telah menemui ajalnya. Pendidikan yang disampaikan dalam sekolah tidak lagi mampu diharapkan sebagai minimalisator krisis manusia modern. Baginya, pendidikan telah mati!. Kenapa tidak, pendidikan –dengan sekolah sebagai basisnya– yang diharapkan mampu mengatasi krisis manusia modern justru terjebak pada kepentingan sesaat dan terlalu berorientasi pada semangat duniawi. Thuh kan!
Selama ini proses pendidikan dan berbagai pola reproduksinya diasumsikan sebagai aktivitas yang baik, berbudi, dan humanis. Namun tanpa disadari oleh beberapa kalangan dalam beberapa dekade terakhir ini, menunjukkan suatu gejala munculnya reformulasi, rekonstruksi bahkan semacam dekonstruksi tentang dunia pendidikan, khususnya pendidikan formal –sekolah–. Munculnya gejala tersebut membuat beberapa konseptor dan praktisi pendidikan shock dan mengelami kegoncangan-kegoncangan psikologis. Bagaimana tidak! selama ini mereka mempunyai suatu keyakinan bahwa pendidikan dapat menjadikan suatu masyarakat lebih baik dan terhormat. Bagi mereka yang mengkritisi dunia pendidikan justru sebaliknya, mereka berasumsi bahwa dunia pendidikan sarat dengan pergumulan ideologi dan politik. Jika sudah demikian maka originalitas pendidikan sebagai mainstream dinamika masyarakat teredusir menjadi proyek penstabilan ideologi-ideologi tertentu. Yang nantinya penjejalan ideologi-ideologi tersebut terhadap peserta didik tak elak lagi. Ye… sok ngintelek gitu lhoh! Tapi iya kan!
Entah apa yang mereka pikirkan ketika mengolok-olok sekolah, bukankah mereka bisa menjadi Besar juga karena sekolah. Memang orang-orang seperti Illich, Tagore, Postman, maupun Mead akan selalu menjadikan dunia ini sebagai ruang belajar. Mereka bisa belajar, tanpa ada batasan-batasan materi seperti yang ada dalam sekolah, kurikulum. Juga gak perlu biaya yang mencekik leher, bahkan dapat mengekspresikan kreativitas mereka secara bebas. Mereka lebih memilih, meminjam istilahnya Illich, deschooling society untuk menghilangkan dominasi sekolah. Atau mungkin mereka kecewa dengan sekolah, karena mereka terlalu cerdas dan kreatif, sok githu lhoh! sehingga seabreg metode yang digunakan sekolah dalam pembelajaran membuat kecerdasan dan kreativitas mereka terhambat, bahkan cenderung membunuh. Ya itu kan mereka! Bagaimanapun mereka bukan kita, kita yang hanya diberi kemampuan terbatas, dengan begitu kecerdasan dan kreativitas kita perlu dikembangkan lewat yang namanya “sekolah”. Bukannya saya penganut fatalisme lhoh! Mungkin perbedaan mereka dengan kita dalam hal cogito, bisa juga kan!

Bagaimana dengan Kita?
Saya teringat dengan Sabda Sanjaya –tokoh utama dalam novel filsafat “Tapak Sabda” karya Fauz Noor– yang mempunyai pemikiran lain tentang sekolah. Meskipun hanya tokoh fiktif, tapi nilai-nilai yang terkandung dalam lakonnya dapat kita petik hikmahnya, paling tidak dapat mewakili kita sebagai orang kecil yang memberontak pada sistem penguasa. Sebelumnya saya mau bercerita dikit, gak apa kan! Sabda merenungkan permintaan neneknya agar dia meneruskan sekolahnya. Dalam hati Jaya (biasa neneknya memanggil) sebenarnya menyimpan pertanyaan besar tentang sekolah, kurikulum, syarat kelulusan, yang gak ketinggalan adalah biaya. Huch…masalah lama! Capek dech! Bahkan dia pernah melontarkan ocehan kepada gurunya dalam kelas “Pak, bukankah UN itu penghambat kreativitas guru dan murid” tapi gurunya yang arif itu cuma senyum mendengar ocehan Sabda. “Bahkan dalam UN menyontek itu perlu dan wajib hukumnya” tambahnya. Nanti dulu, meskipun terdengar aneh, tapi Sabda punya komentar kayak githu bukan tanpa alasan, Masalahnya bukan dia suka nyontek atau tidak. Bukankah nilai di kertas ujian tidak mengungkapkan kejujuran intelektualitas murid. Sekali lagi tidak! Mungkin saja sebelum mengerjakan soal-soal UN, murid itu sedang ada masalah di rumah, dengan pacar, atau dia tidak bisa menghafal karena sakit. Sayangnya para praktisi pendidikan tidak mau tau masalah itu.
Menurut Sabda, bagi yang bisa mengerti perkembangan zaman dan arif dalam menyikapinya, nyontek itu suatu keharusan. Tolol sekali jika kita tidak memanfaatkan perpustakaan, memubazirkan kamus, tak tau manfaat ensiklopedi dan buku-buku. Bodoh jika kita, dalam usaha memperkaya diri dengan input, tak hendak bertanya dengan orang lain. Atau malah, pelarangan nyontek itu hanya semata-mata untuk meneguhkan status guru dan sekolah, sebagai satu-satunya sumber pengetahuan! Kalau tidak mau mewabahnya kebiasaan contek-menyontek, gak perlu pakai UN untuk menentukan kelulusan siswa, cukup pakai kearifan. Githu aja kok repot! Dalam kehidupan sehari-hari yang tak bisa dicontek bukanlah rumus atau informasi pelajaran. Yang tak bisa dicontek itu ialah kearifan. Karena pengetahuan dan terutama kearifan pada akhirnya berbeda.
Ya…! begitu lah seorang Sabda yang memang pada waktu itu masih di bangku Aliyah. Dia mengungkapkannya, lebih mengedepankan emosi belaka. Tapi ada benarnya juga, kan emang benar bahwa intelektualitas seseorang tidak bisa diukur hanya dengan melihat nilai di kertas ujian, tanpa harus melihat nilai-nilai metafisis dan historis yang mengitarinya. Tanpa harus mengetahui alasan kenapa seorang murid tidak bisa mengerjakan soal-soal dalam ujian, sehingga mendapatkan nilai jelek. Banyak kan masalah-masalah seperti itu akhir-akhir ini. Kayaknya yang lebih pas 4 tahun belakangan ini, ya UN tahun 2004-2007. Pasnya semenjak diberlakukannya standarisasi kelulusan, kan sudah terbukti bahwa dengan begitu tidak bisa menjadi standarisasi pula bagi kecerdasan dan kreativitas peserta didik. Nyatanya banyak kok murid yang sudah terkenal paling pandai di kelasnya gak lulus, trus yang terkenal bodoh malah lulus. Bahkan atlet fisika pun bisa gak lulus, di nilai matematika lagi! Malu-maluin aja! Itu kan bisa jadi bukti bahwa standarisasi kelulusan tidak terlalu efektif! Sekolah sebagai basis utama pendidikan, seharusnya bisa mengembangkan kecerdasan dan kreativitas peserta didik. Malah di dalamnya menerapkan metode pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana bisa mengerjakan soal-soal UN, yang intinya adalah kelulusan yang diakui negara.
Mengenai sekolah meminjam kata Iwan Fals hanya perlu untuk bergengsi agar mudah bergaul dan tentu banyak relasi. Karena sekolah dewasa ini hanya untuk meneguhkan gaya hidup. Begitu kan tujuan Anda? Bahkan, sekarang banyak orang sekolah demi sesuatu yang sifatnya materi, uang, dan kedudukan, bukan kearifan. Tujuan di benak mereka adalah bagaimana mendapatkan bongkahan batu untuk dibangun rumah megah, bagaimana cara bergaul untuk menduduki kursi hangat dan basah. Bukankah mental-mental koruptor, penindas, serta preman-preman kekuasaan lain dibangun ketika masih sekolah. Jadi benar kata Neil Postman bahwa pendidikan kini hanya berorientasi pada penilaian publik.
Eh jadi nglantur, Kembali lagi ke UN. Emang sich UN perlu, paling tidak standar kelulusan, emm…sebut saja penilaian, sekurang-kurangnya untuk satu kertas yang katanya sebagai akreditasi intelektual –ijasah–. Masak selama hidup kita dilihat dari kertas, bukankah undang-undang diukir di kertas, hukum disimpan pada kertas, pendidikan diukur dari kertas juga, dan mudah diganti dengan kertas pula –uang–. Segitu kuat kah kekuasaan kertas? Apakah sekarang sudah menjadi zaman kertas?

Penulis adalah koordinator redaktur pelaksana Majalah Edukasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s