KEBENARAN DALAM PERSPEKTIF

Posted: Maret 19, 2010 in Wacana Keislaman
Tag:

KEBENARAN DALAM PERSPEKTIF

Oleh: Mustamir Anwar*

Seorang pengasuh pondok pesantren di Ungaran, Jawa Tengah menikahi bocah umur 12 tahun. Syeh Puji, lelaki paruh baya menikahi Luthfiyana Ulfa, perempuan yang baru kelasn 1 SMP. “A’isyah ketika dinikahi Nabi saja saat dia berumur 7 tahun”, Terang Syeh Puji saat menjelaskan alasannya sambil membawa buku berjudul “A’isyah Saja Nikah Muda”, seolah-olah ingin menunjukan kepada halayak tentang buku tersebut.

Gencar-gencarnya media masa mengekspos berita tersebut. Mereka beranggapan bahwa hal yang tidak lumrah ini akan membawa keuntungan yang besar. Cukup modal main ke Ungaran dan bertanya kepada pihak yang terkait, hasinya diurai menjadi kata-kata atau tulisan sambil dibumbui ini-itu, diberi penyedap yang kadang melebihi takaran, menjadikan berita tersebut menjadi menarik untuk disimak. Dan tentu media masa akan mengeruk provit yang berlimpah dari hal ini tanpa menghiraukan dampak psikologis keluarga Syeh Puji dan Luthfiyana Ulfa yang timbul dari pemberitaan berlebihan.

Ditambah lagi Komnas Perlindungan Anak melibatkan diri dalam persoalan rumah tangga orang. Alasannya simpel, ingin melindungi Luthfiyana Ulfa dari kerasnya berumah tangga. Di samping, alat-alat reproduksi yang belum berkembang juga psikologinya pun belum siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Berdasar pada Undang-Undang Pernikahan di mana batas minimal menikah bagi seorang perempuan adalah 18 tahun, Komnas Perlindungan Anak menghujat perbuatan Syeh Puji.

Meskipun belum tentu Komnas Perlindungan anak benar-benar memperjuangkan nasib Luthfiyana Ulfa, dalam banyak kasus justru hanya ingin menunjukan eksistensinya saja sebagai organisasi yang melindungi anak-anak. Mereka berbuat demikian hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat saja. Misalnya pada kasus pernikahan dini Luthfiyana Ulfa ini, sekilas memang seolah memperjuangkan, tapi perjuangannya tidak disadari justru berdampak pada ranah psikologis yang lebih berat. Di mana seharusnya Luthfiyana Ulfa hanya sebagai seorang istri cilik, tapi malah lebih sebagai janda muda. Dan akan lebih berat untuk dijalani anak seusia Luthfiyana Ulfa. Sedangkan Komnas Perlindungan Anak belum tentu mau bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan dari hasil gugatannya itu, dari segi ekonomi Luthfiayana Ulfa maupun psikologisnya.

Sebenarnya kalau melihat realitas, pernikahan usia dini sudah berlangsung lama di pedesaan. Dan hal tersebut sudah lumrah terjadi. Kenyataannya tidak terjadi apa-apa, justru menjadi keluarga yang adem-ayem penuh dengan keharmonisan. Sedangkan Komnas Perlindungan Anak atau LSM-LSM yang memperjuangkan perempuan baru datang kemudian. Dan hal inilah yang sebenarnya menjadikan permasalahan semakin ruyam. Dimana seharusnya permasalahan rumah tangga dapat diselesaikan secara kekeluargaan, akan tetapi hukum ikut campur tangan. Ini berdampak pada psikologis keluarga dimana direndum rasa malu karena aib keluarga mengemuka. Walau bagaimana pun perkembangan anak di desa dan kota jelas berbeda. Bukankah yang menjadi patokan Komnas Perlindungan Anak hanya perkembangan anak perkotaan dimana cukup mapan dalam hal ekonomi!

Perspektif Kebenaran

Secara filosofi kebenaran bisa berlandaskan pada fakta lapangan (correspondence), tergantung pada adanya saling hubungan secara tepat antara ide-ide yang sebelumnya sudah diakui kebenarannya (coherence), maupun dipandang dari kegunaannya sendiri (pragmatic) karena masalah kebenaran bersangkutan secara langsung dengan manusia dalam hidup dan kehidupannya. Kebenaran-kebenaran ini untuk selanjutnya mengahasilkan hukum positif.

Di satu sisi agama mempunyai kebenarannya sendiri di mana berdasarkan atas wahyu dan intuisi dari nabi yang membawanya. Islam sendiri mempunyai kebenaran otoritatif dan fleksibel. Kebenaran otoritatif adalah kebenaran syari’at. Ini sesuai dengan pandangan ahlu sunah wal jama’ah bahwa al hasan ma hasanahu as syar’u wal qobikh ma qobakhahu syar’u, baik atau buruk yang menentukan adalah syara’. Sedangkan kebenaran fleksibel sendiri merupakan interpretasi dari kebenaran otoritatif. Dari kebenaran otoritatif yang bersifat global dikontekskan dengan kondisi, keadaan, maupun tempat yang ada. Hal inilah yang menjadikan kebenaran otoritatif menjadi fleksibel. Untuk selanjutnya kebenaran otoritatif menjadi hukum syari’at dan fleksibel menjadi hukum fiqih.

Di Indonesia, sebenarnya lebih menjalankan hukum positif dari pada hukum syari’at atau fiqih. Karena hukum positif juga mendapatkan dukungan dari hukum fiqih maupun syari’at (taghoyurul ahkam bi taghoyuril azman wa amkan wa ahwal). Dalam Al Qur’an sendiri menjelaskan taatilah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang memegang urusanmu (athi’ullaha wa rasulla wa ulil amri minkum). Yang termasuk ulil amri di sini adalah pemerintah sendiri. Hal inilah yang menjadikan hukum-hukum fiqih di Indonesia menjadi semakin berwarna karena adanya hukum positif tersebut.

Dalam kasus Syech Puji dan Luthfiyana Ulfa pernikahannya tidak sah, karena persyaratan menikah di Indonesia tidak hanya adanya dua mempelai, wali nikah, dua saksi, dan akad nikah saja, tapi ada tambahan lagi yaitu kedua mempelai harus sudah mencapai usia 18 tahun. Kurang lebih demikian. Meminjam dialektika Hegel, karena hukum fiqih adalah tesis, hukum positif di Indonesia adalah anti tesis, sehingga memunculkan sintesis ketika didialekkan seperti di atas. Ketidak-sahan pernikahan keduanya karena sudah masuk ke ranah publik, tapi kalau masih dalam ranah privat pernikahan akan tetap sah menurut syari’at. Kenyataanya di desa-desa masih banyak yang mempraktekan nikah di bawah umur, dan ekonomi yang menjadi dasar masalah tersebut. Dan tentu pemerintah tidak mau tahu tentang perekonomian seseorang yang mau menikah dini ini. Di sinilah faktor hukum positif menjadi lemah. Sedangkan yang membatasi antara ranah publik dan privat adalah ulah media masa. Ketika kasus pernikahan Syech Puji dan Luthfiyana Ulfa tidak terekspos media, tentu pernikahan mereka akan tanpa masalah seperti sekarang, dan tidak akan ada gugatan-gugatan dari LSM maupun Komnas Perlindungan Anak.

Walau bagaimanapun Syech Puji dan Luthfiyana Ulfa tetap salah karena mengabaikan hukum positif yang berlaku. Media masa juga salah karena hanya demi kepentingan komersial dan provit semata, sehingga mengangkat ranah privat seseorang menjadi ranah publik yang akhirnya menjadikan masalah semakin rumit saja. Begitu juga LSM dan Komnas Perlindungan Anak juga salah karena hanya ingin menunjukan eksistensinya mereka melibatkan diri dalam urusan orang lain, dengan alasan melindungi perkembangan Luthfiyana Ulfa secara normal, justru mengakibatkan guncangan besar terhadap psikologinya. Dan tidak mau tahu dengan ekonomi Luthfiyana Ulfa, padahal pernikahan dini tersebut dilakukan salah satu alasannya adalah prihal ekonomi. Inilah kebenaran dalam perspektif saya!

*Penulis adalah Pemred Majalah Ath Thullab tahun 2003-2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s