HAM; Perspektif Islam

Posted: Maret 19, 2010 in Wacana Keislaman

HAM; PERSPEKTIF ISLAM

Oleh: Mustamir Anwar

Pembahasan mengenai HAM masih sangat menarik serat aktual untuk diperbincangkan, karena diskursus mengenai HAM dewasa ini masih up to date. Meskipun sejarah Hak Asasi Manusai (HAM) bermula dari usainya perang dunia, tapi pada dasarnya, HAM berasal dari konsep Yunani-Romawi yang telah mengaitkan sikap manusia serta mengukur baik-buruknya berdasarkan keserasiannya dengan hukum alam, yang kemudian dikenal dengan konsep natural law doctrine. Meskipun demikian, Alwi Shihab (1999:177) mengatakan bahwa human right atau hak asasi manusia adalah istilah yang relatif baru, namun ia telah menjadi kepedulian etis utama dewasa ini.

Penghargaan universal dan ketaatan kepada HAM serta kemerdekaan dasar bagi manusia tanpa membedakan ras, gender, bahasa, ataupun agama telah disoroti oleh Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang kemudian disusul oleh Deklarasi HAM pada tanggal 10 Desember 1948 dan oleh dua buah ikrar yang kemudian dibuat berdasarkan hak-hak sosial dan kultural serta mengenai hak-hak sipil dan politik.

Realitas semacam itu ketika dibenturkan dengan Islam, maka harus memberikan kerangka kontekstual mengenai HAM sebagaimana yang dipahami oleh Barat dan Islam. Dengan cara demikian dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai aspek-aspek HAM menurut pengertian Islam yang mungkin sekali sangat berbeda dari aspek-aspek biasanya berasosiasi dengan pendekatan modern. Dalam hal ini, Islam selalu sudah menjamin apa yang mau dijamin dengan HAM dan sudah menegakkan mengenai standar yang tinggi mengenai HAM tersebut. Apalagi kalau dibandingkan dengan standar yang ditegakkan Islam ini, maka Deklarasai semesta mengenai HAM dapat dipandang sebagai sebuah akibat yang sewajarnya atau sebuah perluasan dari program yang telah digariskan Al Qur’an.

Sebenarnya kalau dicermati secara kritis dan analisis, bahwa dalam Islam hak-hak dan kewajiban, larangan dan perintah merupakan komponen agama. Dengan demikian, A. K. Brohi, mengatakan bahwa pandangan Islam terhadap HAM bersifat teosentris, artinya Tuhan adalah yang Mahatinggi dan manusia hanya ada untuk mengabdi kepada-Nya. Hal ini juga berarti bahwa manusia seolah-olah tidak mempunyai hak-hak dan hanya mempunyai kewajiban saja. Tetapi lebih dari pada itu sesungguhnya dalam totalitas Islam, kewajiban manusia kepada Allah mencakup pula kewajibannya kepada masyarakat dan kepada setiap individu lainnya. Maka secara paradoks, hak-hak dari setiapmanusia dilindungi oleh kewajiban-kewajiban semua manusia di bawah hukum Allah.

Ternyata prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al Aqur’an tentang keadilan, kejujuran, dan solidaritas kamanusiaan telah menimbulkan kewajiban bagi tiapanggota masyarakat Islam. Pinsip-prinsip tersebut telah menimbulkan suatu iklim hormat-menghormati dan jaga-menjaga yang timbal balik, di mana merupakan praktik peradaban yang berdasarkan keagamaan. Begitu juga ”memerintahkan yang baik dan melarang yang jahat” telah memberikan kepada masyarakat Islam suatu sifat dan kebiasaan peternalis. Tetapi dasar sejarah dari sari filsafat Islam adalah tetap, yaitu otonomi pribadi seseorang, di mana menekankan dengan cara proyeksi hak-hak asasi manusia dalam masyarakat. Seperti semua sistem politik, Islam menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Tetapi jika hal tersebut perlu dikerjakan, negara harus tidak meanggar sifat kemanusiaan warga negaranya atau menyebabkan hilangnya kemerdekaan dan keluhurannya.

Lebih jelasnya, Al Qur’an menjelaskan di anataranya adalah; pertama, bahwa setiap individu secara primordial memiliki hak hidup serta memperoleh martabat kehidupan yang sama dan luhur di hadapan Tuhan dan pergaulan sesama manusia. Begitu tingginya hak hidup seseorang sehingga Allah sangat mengutuk tindakan pembunuhan. Seandainya membunuh itu diizinkan oleh Allah itu merupakan kasus emergensi, hal ini sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an surat Al Ma’idah: 32.

Kedua, yang lebih esensial dari hak hidup sendiri adalah HAM berupa kemerdekaan. Kemerdekaan adalah hak dan kualitas fundamental yang membedakan manusia dengan hewan, bahkan juga manusia dan malaikat. Menurut Al Qur’an, meskipun manusia dan seluruh jagat raya ini merupakan ciptaan Tuhan, Dia tidak menggunakan keperkasaan-Nya untuk memaksa manusia untuk menyembah kepada-Nya. Intinya Islam mengakui adanya kebebasan beragama dan tidak beragama. Hal ini sebagaimana tercantum dalam surat Al Kahfi: 29.

Ketiga, Islam uga mengakui adanya persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat bagamana Islam datang dengan misi pembebasan kaum perempuan dari dominasi kaum lelaki, sehingga dalam Al Qur’an sendiri terdapat surat An Nisa’ yang artinya ”perempuan”. Bahkan Nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan bahwa ”surga itu berada di bawah telapak kaki ibu” kalau saja kita diperbolehkan sujud selain keada Allah, niscaya aku akan anjurkan agar bersujud keada ibu. Kurang lebih begitu sabda Rasulullah.

Dan keempat, Islam juga mengakui hak asasi manusia untuk menikmati anugrah alam, sebagimana difirmankan Allah dalam Al Qur’an yang artinya ”maka siapapun yang merampas hak orang lain untuk bisa menikmati anugrah alam ini dengan wajar, lalu dia menumpukkan kekayaan alam hanya untuk kepuasan dirinya, sungguh murka Allah sangat besar.”

Pada dasarnya isyarat-isyarat yang ditunjukkan Al Qur’an adalah mengenai kebebasan. Al Qur’an menganggap sesuatu yang lebih esensial dari hak hidup adalah HAM berupa kemerdekaan. Artinya agama Islam memberikan hak kebebasan suara hati nurani dan keyakinan kepada seluruh umat manusia. Kaum muslim diperbolehkan mengajak kaum non muslim untuk menuju jalan Islam, tetapi mereka tidak memaksakan kehendak. Umat Islam tidak boleh memengaruhi siapapun untuk menerima agama Islam dengan cara melakukan tekanan-tekanan sosial dan politik. Kebebasan ini bukan hanya berkaitan dengan masalah agama semata-mata, namun juga berkaitan dengan kebebasan berpolitik dan beridiologi. Islam tidak hanya melarang penggunaan paksaan dan kekerasan dalam masalah keyakinan beragama, tetapi juga melarang penggunaan bahasa kasar terhadap agama lain. ”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah” (Al An’am: 108). Inilah prinsip-prinsip Islam tentang kebebasan hati nurani dan keyakinan. Yang jelas Islam menganjurkan ”tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam” (Al Baqarah: 256).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s