Musik dan Pembelajaran

Posted: Maret 13, 2010 in Pendidikan

Implikasi Musik terhadap Proses Pendidikan Anak

Oleh Mustamir Anwar

Mendengarkan musik dapat memberikan hasil yang luar biasa ampuh dan langsung terasa bagi kehidupan manusia. Musik juga dapat meningkatkan daya hidup dan melepaskan kelelahan, serta menaikkan dan menyeimbangkan suasana hati. Musik membantu memfokuskan pikiran dan inspirasi untuk berkreasi.

Musik berbicara pada emosi dan membuka pintu hati. Ia menenangkan jiwa, merilekskan tubuh, dan menyatukan diri kembali dengan hasrat dan impian yang terdalam. Musik dapat menerobos pikiran sadar dan membiarkan masuk ke pikiran bawah sadar, di mana dapat mengekspresikan perasaan.

Dr. Totok Sumaryanto, M. Pd, –sebagai Sekretaris Pusat Penelitian Inovasi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum UNNES– menyatakan bahwa sebenarnya musik itu bagian dari seni, di mana hal tersebut merupakan ungkapan perasaan yang dibentuk ke dalam bahasa bunyi, yang memenuhi syarat-syarat estetika, kreatifitas, dan ekspresi.

Pada dasarnya komponen dasar musik secara umum ada tiga (Caron B. Goode, ED.D: 2005), yaitu suara, irama, dan melodi. Pertama, suara merupakan bahan yang paling pokok dari musik, karena suara adalah langkah awal dalam menciptakan musik. Dalam tubuh, suara berhubungan dengan sistem saraf pusat. Suara dapat membuat berenergi atau menenangkan hati. Suara yang menyenangkan akan membuka dan melapangkan diri, sebaliknya suara yang berderit akan membuat diri mengerut.

Kedua, irama memberikan ketukan pada suara, menyiapkan, dan mengaturnya. Irama merupakan langkah kedua, di mana suara diatur oleh irama sehingga menjadi suara-suara indah. Dalam tubuh, irama berkaitan erat dengan irama tubuh internal (denyut nadi dan pernapasan). Jika ketukan musik menjadi cepat, detak jantung dan gerakan tubuh akan mulai terasa mengikutinya.

Ketiga, melodi berkaitan dengan emosi. Musik memberi suara dan irama pada perasaan serta kualitas indra. Melodi adalah bagian musik yang dapat mengekspresikan seluk-beluk pengalaman seseorang. Melodi langsung masuk ke dalam hati dan pusat perasaan. Melodi dapat mengangkat semangat, menenangkan di saat stress, atau membangkitkan keharuan. Melodi mengubah suara menjadi pernyataan personal dan unik. Dengan memainkan ketiganya (suara, irama, dan melodi) akan menemukan perbendaharaan dan alat bantu untuk berekspresi ketika kata-kata yang tepat sulit diungkapkan.

Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan Totok, bahwa musik adalah sound, suara yang teratur, bukan noise, suara yang tidak teratur. Makanya orang menyapu pun bisa jadi musik, kalau polanya sama dan teratur, karena teori musiknya mengatakan bahwa musik adalah bunyi yang teratur dengan frekwensi tertentu, itu adalah kata kuncinya.

Musik yang Mencerdaskan

Kalau melihat teori Multiple Intelegencia, bahwa dalam diri manusia itu punya delapan kapasitas potensi kecerdasan yang sifatnya semi otonom. Yaitu; kecerdasan logika matematik –kecerdasan seseorang dalam hal menghitung–, kecerdasan spasial –berpikir secara urut dan bertahap–, kecerdasan linguistik –kecerdasan dalam berbahas–, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal –kemampuan bagaimana mengelola diri sendiri–, kecerdasan intrapersonal –kemampuan bagaimana berkomunikasi dengan orang lain–, dan yang terakhir adalah kecerdasan yang paling tinggi yang namanya intuisi –tanpa persiapan sebelumnya tapi dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa–. Ini tidak banyak dimiliki orang.

Dengan hal tersebut maka dapat dipahami bahwa semua orang punya bakat musik –karena mempunyai kecerdasan musik–, cuma kapasitasnya saja yang berbeda. “Kalau seorang anak kuat dalam hal kecerdasan yang satu maka akan lemah dalam kecerdasan yang lainnya, karena sifatnya semi otonom. Maka sebenarnya musik itu bagian dari kecerdasan manusia”. Tandas Totok dengan nada menyakinkan.

Tidak hanya itu, keistimewaan musik ternyata dapat mempengaruhi kecerdasan-kecerdasan lain, misalnya pengaruh yang ditimbulkan pada kecerdasan logika matematik. Totok memaparkan bahwa banyak bukti yang mengatakan, anak yang diberi pelajaran musik, ternyata lebih baik dalam mengerjakan matematika. Ini karena keduanya mempunyai kesamaan-kesamaan, sehingga jika seseorang mempelajari musik, maka dia juga mempelajari matematika meskipun dengan metode yang berbeda. “Alasannya adalah nada, karena pada dasarnya nada itu merupakan rangkaian atau dibuat dengan angka-angka”. Terang M. Ouys Al Qoroni, dosen UNIKA Sugijapranata Semarang. Hal tersebut dipertegas oleh Totok bahwa dalam nada-nada tersebut ada interval (jarak) antara note yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan dalam matematika ada interval dan angka-angka. Dengan hal tersebut maka nada cenderung bersifat matematis. Jadi jelas ada kaitannya antara musik dan matematika. Bahkan tidak hanya kecerdasan berpikir saja (Intelegent Quotien), tapi juga kecerdasan emosi (Emotional Quotien¬).

Musik yang dapat dipergunakan untuk pendidikan dan alat mempertajam kecerdasan manusia adalah musik yang mempunyai keseimbangan tiga unsur, yaitu, beat, ritme, dan harmoni. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, dan harmoni mempengaruhi ruh. Di sini musik klasik lah yang sesuai dengan hal tersebut.

“Secara empiris musik klasik –Mozart, Hydent– memang memiliki nada yang matematis dan berpengaruh”. Tutur Ouys yang juga mengajar di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Totok juga mengungkapkan bahwa musik klasik mempunyai kecepatan yang setara mendekati detak jantung. Artinya, mendengarkan musik yang kecepatannya setara dengan detak jantung, secara otomatis akan berpengaruh terhadap emosi anak, termasuk dalam konsentrasi belajar. Don Campbell dalam bukunya Efek Mozart menuliskan bahwa musik klasik mampu memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial. Sehingga sangat baik kalau musik ini digunakan untuk mengiringi anak belajar, karena dia akan mudah menerima apa yang diajarkan juga akan selalu ingat pelajaran tersebut. Tidak hanya itu, anak tersebut juga akan mempunyai emosi yang stabil, karena stimulus yang diberikan musik.

“Musik yang digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan konsentrasi belajar adalah musik yang kecepatannya mendekati detak jantung, bukan yang cepat-cepat. Kalau musik rock dan dangdut merupakan musik cepat, jadi akan mengganggu konsentrasi. Musik yang dimaksud adalah musik yang instrumentalia, bukan yang pakai vocal, karena kita cenderung meniru syairnya bukan musiknya”. Terang Totok di tengah-tengah kesibukannya.

Tapi sebenarnya tidak harus musik klasik, musik-musik sekarang sejauh ciri-cirinya sama, termasuk ritmenya, suaranya, itu bisa dipakai. Sama halnya yang diungkapkan Totok –lelaki yang mengajar di UNNES sejak tahun 1991 itu– mengatakan bahwa musik-musik instrumentnya Keniji dengan kecepatannya tersebut, bisa dipakai. Lain halnya dengan musik-musik intrumentnya Kitaro yang lebih ke jazz, artinya dalam hal kecepatannya terlalu cepat, jadi kurang pas untuk menstimulus emosi anak.

Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak, hembusan angin, rintik hujan, derasnya aliran air, merupakan musik alam yang sangat indah. “Alam atau lingkungan menurut saya itu musikal atau merupakan salah satu jenis musik, musikal itu menurut saya yang penting dipandang dari vibrasi atau nada, dan alam memilikinya”. Tutur Ouys serius. Jadi aspek kosmos itu pengaruhnya besar sekali terhadap perkembangan anak, tidak harus dengan salah satu musik tertentu saja. Yang penting bagaimana nada dapat mengembangkan intelektual anak secara maksimal.

Kalau melihat daerah pedesaan tidak begitu banyak perubahan, tapi di daerah metropolitan, maka akan didapat perubahan yang mencolok. Gemuruh mesin-mesin pabrik, kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan ramainya mobilitas masyarakat, menyebabkan terganggunya musikal alam. Untuk memperoleh musikal alam -paling tidak yang mendekatinya-, maka alternatifnya adalah dengan bantuan musik, yaitu yang mempunyai keseimbangan tiga unsur tadi.

Kaitannya dengan Pendidikan

Menurut Henry Van Laer dalam bukunya Filsafat Sain (1995) bahwa to know merupakan aktivitas mahluk hidup. Dengan inderanya mereka dapat menyaksikan dan menyajikan dunia eksternal masuk ke dalam diri (internal) mereka sendiri. Dengan hal tersebut maka dapat dipahami bahwa dalam diri manusia terdapat indera eksternal –penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba– dan indera internal –indera sentral atau sensitivitas, imajinasi, indera memori, dan indera estimasi–.

Penglihatan dengan melihat (visual) kejadian sesuatu peristiwa. Pendengaran dengan mendengar (auditory) sesuatu bunyi. Penciuman dengan membau (olfactory) makanan misalnya, membuat kita merasa lapar. Rasa, dengan lidah kita dapat merasakan (taste) bermacam-macam rasa, antara manis, pahit, masin, dan masam. Sentuhan dengan kulit kita dapat sentuhan (tactile) sehingga dapat membedakan antara permukaan yang halus dan kasar. Indera-indera eksternal berfungsi memasukkan informasi-informasi ke dalam diri, selanjutnya informasi-informasi tersebut diproses oleh indera internal. Selanjutnya informasi yang telah mengalami proses sistematisasi dan memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditentukan tersebut, maka manjadi ilmu pengetahuan.

Pembelajaran tidak semestinya melibatkan penguasaan fakta atau konsep suatu bidang ilmu, tapi juga melibatkan perasaan-perasaan yang berkaitan dengan emosi, kasih sayang, benci, hasrat, dengki, dan kerohanian. Pembelajaran adalah minat banyak orang dari berbagai komponen masyarakat. Oleh karena itu, psikologi pembelajaran telah muncul sebagai satu-satunya tumpuan yang mengkaji; epistemologi, ontologi, dan aksiologi. Semua organisme mempunyai kapasitas untuk belajar selagi organisme itu mempunyai otak. Pembelajaran adalah suatu proses perubahan yang berlaku akibat daripada individu berkenaan.

Menurut Prof. Tri Joko –guru besar PLS UNNES- bahwa ada lima prinsip-prinsip dalam pelaksanaan pendidikan sehingga perubahan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang merupakan indikasi dari pendidikan akan dapat terwujud, yaitu; pertama, sesuai dengan perkembangan individu peserta didik. Kedua, azas keterikatan dan kebebasan. Ketiga, azas motivasi. Keempat, azas pertanggungjawaban dan kewibawaan, dan kelima adalah azas aktivitas. Kesemua prinsip tersebut harus dimengerti dan benar-benar dijalankan.

Menurut Totok kaitan musik terhadap pendidikan adalah; Pertama bahwa kurikulum seharusnya memberi porsi yang sama dari kesemua kapasitas potensi kecerdasan tadi dan bagaimana mengembangkannya. kurikulum yang baru ini (kurikulum 2006) dibuat mengacu pada pengembangan semua kapasitas tersebut. Dalam hal ini mulai dari preoprasional sampai oprasional kongkrit. Maksudnya dalam masa preoprasional adalah masa dimana anak belum bisa diajari membaca dan menulis, apalagi membaca notasi musik. Anak cukup didengarkan musik saja, karena musik akan memancing rasa. Sedangkan ketika anak sudah dapat diajari membaca menulis, juga bernyanyi dengan menggunakan notasi, sekitar umur empat tahun –masa oprasional kongkrit–. Anak sudah dapat diajari musik, bahkan memahaminya. Makanya usia empat tahun adalah masa yang paling baik bagi anak untuk mulai diajarkan musik. Masa tersebut berakhir sampai usia sebelas tahun, karena itu lah masa kritisnya.

Kedua, bahwa tujuan paradigma pendidikan dulu adalah belajar mengajar, sekarang menjadi proses mengajar belajar. Jadi pembelajaran sekarang ini bukan bagimana menguasai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, tetapi juga berkenaan membuat anak senantiasa mau belajar. Dalam hal ini musik merupakan media pengiring belajar anak yang dapat merangsang konsentrasi anak dan menguatkan ingatan. Penelitian mengatakan bahwa musik dapat membuat siswa lebih pintar dan membantu otak berfokus pada hal yang dipelajari. Kalau melihat bahwa pilar pembelajaran yaitu; learning to do (belajar melakukan), learning to know (belajar tentang), dan learning to be (belajar menjadi dirinya sendiri). Dalam rangka untuk mengaktualisasikan dirinya, anak harus diberikan arahan dari pihak pendidik. Makanya dari pihak sekolah itu harus mengetahui potensi anak bagaimana dan sampai di mana. Kemudian diberikan bimbingan karirnya atau dikembangkan, sebaiknya kamu ke mana, itu sangat diharapkan.

Ketiga bahwa musik adalah salah satu dari kecerdasan manusia, padahal semua kecerdasan itu harus difasilitasi di sekolah, dan otomatis harus diselenggarkan. Tujuan musik diselenggarkan di sekolah bukan untuk mendidik anak menjadi seniman, tapi lebih dititikberatkan ke pengalaman estetik, ekspresi, dan kreatif, dengan harapan pengalaman tersebut akan berpengaruh pada pola pikirnya.

Siswa yang mendapatkan pendidikan musik, jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis, cerdas, kreatif, dan mampu mengambil keputusan serta mempunyai empati. Dalam hal ini musik lebih berpengaruh dalam menstabilkan emosi. Dengan kestabilan emosi maka efek-efek negatif emosi akan sedikit demi sedikit dapat dikurangi, sehingga tidak ada yang namanya tawuran pelajar maupun sifat egoisme. Dengan musik anak dilatih untuk menahan emosi, hasrat, dan gejolak, karena mereka dapat melepaskan beban berat dalam hatinya dengan musik dan dapat melimpahkan semua perasaannya ke dalamnya.

Psikologi Perkembangan

Dalam psikologi perkembangan ada beberapa aliran yang sangat berpengaruh. Pertama, Nativisme (nativism). Tokoh utama Dari aliran ini adalah Arthur Schopenhaur (1788-1860) seorang filosof Jerman. Pada dasarnya nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran filosofis. Para ahli dari aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaan (hereditas), sedangkan pendidikan dan pengalaman tidak berpengaruh apa-apa. Makanya aliran ini dijuluki sebagai aliran psimistis.

Kedua, Empirisme (empiricism) dengan tokoh utama Jhon Locke (1632-1704). Doktrin yang amat masyhur dari aliran ini adalah “tabula rasa”, sebuah istilah Latin yang berarti batu tulis kosong (blank state/blank table). Bahwa ketika manusia lahir itu disamakan dengan kertas kosong, dan pengalaman dan pendidikan yang didapat dari lingkungan lah yang berpengaruh besar dalam perkembangan manusia. Dalam artian tidak memperhatikan segi hereditasnya, yaitu bakat dan pembawaan sejak lahir tidak berpengaruh apa-apa.

Ketiga, Konvergensi (convergence). Tokoh utamanya adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang psikolog Jerman. Aliran ini menggabungkan kedua aliran (nativisme dan empirisme). Bahwa hereditas, pendidikan, dan pengalaman yang didapat dari lingkungan lah yang dapat mempengaruhi perkembangan manusia. Sebagai bukti, bahwa anak yang baru lahir dengan dilengkapi berbagai kemampuan yang dibawanya sejak lahir dan akan dikembangkan menurut kemampuannya kelak di dunia nyata sesuai dengan apa yang diharapkan. Aliran ini lah yang sampai sekarang banyak pengikutnya dan sesuai dengan ilmu pengetahuan dewasa ini.

Manurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Atau dengan kata lain, suatu kemampuan mental maupun mentalitas yang melibatkan proses berpikir secara rasional (Siti Rahayu Harditono: 1991). Sedangkan dalam proses pembentukan intelegensi anak, sebaiknya dimulai sejak masih dalam kandungan, karena pada masa ini merupakan masa vital yang mempengaruhi perkembangan anak pada lingkungan berikutnya.

Bukan hal aneh jika seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan, dengan memperhatikan terpenuhinya kebutuhan beberapa aspek, antara lain kebutuhan biologis, kebutuhan kasih sayang, dan stimulasi.

Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus terpenuhi. Ibu hamil gizinya harus cukup, artinya asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik. Kebutuhan nutrisi itu sendiri sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, bahkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika hamil dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.

Kedua, kebutuhan akan kasih sayang. Ibu harus menerima kehamilan itu, maksudnya benar-benar dikehendaki. Tanpa penerimaan, otomatis tanpa kasih sayang. Sedangkan tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan bisa optimal. Selain itu faktor psikologi lah yang disebut sebagai faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan bayi.

Ketiga, adanya perhatian penuh dari sang ibu terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan mengeluarkan neo transmitter zat-zat rasa senang, juga sebaliknya, sehingga bayi dalam kandungan pun akan ikut terstimulus juga. Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak. Secara psikologis, stimulasi positif juga dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, ketika anak tumbuh dewasa diharapkan bukan hanya menjadi cerdas, tapi juga dapat bersosialisasi dengan lingkungan.

Di sini lah peran musik, bahwa secara psikologi ketika ibu mendengarkan musik, maka perasaan nyaman lah yang akan dirasakannya, sehingga perasaan tersebut ikut dirasakan juga oleh sang bayi. Vibrasi-vibrasi yang ditimbulkan oleh musik, ditangkap oleh janin, dapat merangsang pertumbuhan otak secara optimal, sehingga ketika bayi lahir kelak menjadi bayi yang cerdas.

Janin dapat mendengarkan bunyi melalui pendengaran ibu yang berubah menjadi vibrasi-vibrasi. Jadi tidak sama dengan kita mendengarkan bunyi. Pada usia di atas delapan minggu, otak janin mulai berfungsi, dan indra pendengaran merupakan indra yang paling sederhana yang dapat dirangsang melalui vibrasi tersebut. Untuk memberikan stimulus musik, tidak harus dengan mendekatkan suara ke perut ibu, tapi cukup ibu yang mendengarkan saja. Selain janin dapat mendengarkan nada atau vibrasi musik sendiri, namun prosesnya tetap dari ibu.

Dalam otak ada pembagian fungsi, otak kanan berkaitan dengan emosi, kreatifitas, imajinasi, dan sesuatu yang sifatnya non bahasa, sedangkan otak kiri berhubungan dengan daya ingat, logika, bagaimana seorang anak mampu menulis dan melakukan kegiatan lainnya. Di dalam otak terdapat sistem cortege itu ada editoring, berfungsi sebagai perespon suara apapun, dan musik sebenarnya adalah proses belajar sebagaimana yang sudah ada.

Menurut Ouys Al Qoroni, M. Psi, sangat baik jika musik diaplikasikan sejak masa prenatal (janin), karena musik sendiri akan berpengaruh pada proses kognisi, afeksi, dan psikomotorik anak. Pada kognitif karena otak merespon, jadi secara kecerdasan ini bisa membantu kedelapan kecerdasan yang sudah ada. Jadi dari model intelektual paling tidak ada beberapa pendekatan; pertama, dalam sisi kognitif, musik berpengaruh untuk mengembangkan, bukan merubah. Jadi jangan salah dengan menganggap bahwa intelektual seseorang itu dapat berubah, karena yang namanya intelektual itu adalah pemberian dari Allah SWT. Jadi hanya dapat dioptimalkan dan tidak bisa diubah. Bisa dicontohkan dengan melihat pada cc motor 100 tidak mungkin secara tiba-tiba menjadi 150, tapi cc 100 dapat mengalahkan cc150 bahkan dengan cc 200 bisa menang, tapi tetap saja cc 100. Konsep intelektual seperti itu, yang bisa dikembangkan pada kognitif tersebut.

Kedua, emosi sangat penting karena justru ada pengaruh transfer dari ibu kepada janin. Ternyata dari musik pra kelahiran dapat terjadi transfer isi vibrasi dari musik ke perut ibu. Karena pengaruh vibrasi jadi tebal tipisnya perut ibu sangat mempengaruhi sekali.

Padahal untuk perkembangan dan pembelajaran anak di kemudian hari harus equilibrium (seimbang) antara otak kiri (intelektual) dan otak kanan (emosi), karena keduanya saling berkaitan, otak kiri dapat menghambat otak kanan, begitu juga sebaliknya. Untuk memudahkan tercapainya tujuan pendidikan yang hakiki, maka mempersiapkan semua itu harus dimulai sejak dalam kandungan. Dan suara (vibrasi) adalah media yang dapat digunakan. “Menurut saya kurikulum 1994 masih mengacu pada perkembangan otak kiri saja. Nah khusus dengan musik, sebenarnya merupakan bagian dari pengembangan otak kanan. Jadi itu mulai dibutuhkan sejak dalam kandungan melalui ibunya yang mendengarkan. Secara ilmu neurokimia itu akan terpengaruh juga pada anak. Dan sudah banyak bukti bahwa anak-anak yang pintar musik, pintar juga dalam bidang lainnya”. Jelas Totok dengan nada menegaskan.

Pada manusia dewasa memang mempunyai perkembangan dan potensi masing-masing, tapi untuk janin, faktor ibu lah yang sangat berpengaruh. Jadi ada faktor psikologi ibu pada janin. Misalnya kalau ada ibu yang pemarah dan keras itu akan berpengaruh pada kondisi tidak menguntungkan pada psikologi janin. Musik di sini memberi ketenangan bagi tubuh, jiwa, dan ruh ibu. Jadi ketika ibu merasa emosi dan sudah tidak terkontrol lagi maka rilekskan lah dengan mendengarkan musik yang disukai. Kalau dikaitkan dengan kecerdasan janin, maka dengan musik klasik.

Setelah lahir (postnatal), bayi tidak langsung dapat memahami bahasa, untuk itu musik sebagai alat bantu merupakan sebuah media pembawa pesan komunikasi yang paling mudah dan efektif antara orang tua dan anak. Tentunya dalam menfasilitasi musik di sini adalah yang edukatif atau tidak jauh dari misi pendidikan. Karena pendidikan pertama yang dipelajari dalam masa perkembangan adalah mengenal suara, tinggi rendahnya nada, ritme dan sebagainya. Makanya seorang bayi akan dapat mengenali ibunya, karena ibu adalah orang yang sering mengajak bayi bicara baik pra maupun post kelahiran.

Jauh sebelum anak-anak mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dimengerti, orang tua dapat memperkenalkan inti komunikasi dan hubungan sosial kepada mereka dengan cara mendukung serta mendorong mereka untuk mengembangkan ketrampilan berbahasa. Hal ini dimungkinkan karena kepekaan akan musik dan unsur-unsurnya seperti ritme, pitch (tinggi rendahnya nada), dan timbre (warna suara), berkembang dengan kecepatan yang sama seperti berbicara. Memadukan musik, suara, dan psikologi akan membuat siapa saja menjadi lebih mampu menyelaraskan diri dengan getaran yang positif dan sehat demi menciptakan hidup yang lebih bahagia, cerdas dan penuh percaya diri.

Penelitian tentang musik dan kecerdasan untuk anak masa postnatal sudah banyak sekali digunakan dewasa ini, tentunya yang bisa memberikan ketenangan pada jiwa anak. Karena pengaruh musik pada masa ini lebih dominan pada otak kanan yang berkaitan dengan emosi. Misalnya ketika anak usia dua tahun berlari keliling tanpa kendali, musik berirama lambat seperti Bach atau Vivaldi memulihkan ketenangan batin, dan pada banyak anak meredakan aktivitas mereka. (Caron B. Goode, ED.D: 2005). Makanya pada usia ini (sekitar satu tahun hingga yang duduk di bangku sekolah dasar) jenis musik yang cocok tergantung dari kebutuhan. “Perlu diingat bahwa pada masa post (anak) itu mereka banyak menggunakan alam bawah sadar dan setiap stimulus pasti akan selalu direspon itu kalau secara luas, jadi kalau distimulus dengan media musik itu pasti akan berpengaruh banyak pada perkembangan anak”, Tegas Ouys, menanggapi hal tersebut. Sedangkan Totok mengungkapkan bahwa pembelajaran anak sekarang (anak usia dini) mengacu kedelapan kecerdasan tersebut. Memang tujuannya untuk menfasilitasi perkembangan belahan otak kanan dan kirinya. Karena menurut teori, orang yang berhasil itu adalah orang yang dapat menggunakan pola berpikirnya dengan kedua belah otaknya secara seimbang.(€) Lap. MA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s