Sejarah Dikotomi Ilmu

Posted: April 23, 2010 in Wacana Keislaman

SEJARAH DIKOTOMI ILMU
DAN PENOLAKAN ISLAM TERHADAPNYA
Oleh Mustamir Anwar

PENDAHULUAN
Sebuah realitas sejarah bahwa awal mula dari kemunduran Islam secara drastis, bermula dari menurunnya semangat orang Islam dalam memperdalam intelektualitas, sains, dan pengetahuan. Hal tersebut dikarenakan, pertama, penutupan pintu ijtihad dalam hal agama yang mengekibatkan pengekangan terhadap kreatifitas ilmuan-ilmuan muslim pada saat itu, sehingga seolah-olah Umat Islam selanjutnya hanya mempelajari temuan-temuan yang sudah ada, menerima apa adanya. Sehingga pengetahuan tentang keagamaan pada saat itu seolah bagaikan ukiran di atas batu yang disakralkan, dan tidak bisa dijamah-jamah lagi.

Kedua, Pendikotomian ilmu, yang memisahkan ilmu-ilmu agama dan nonagama. Ilmu agama sendiri harus dan wajib dikuasai oleh setiap muslim, tetapi ilmu nonagama merupakan anak tiri yang cenderung diacuhkan. Keberadaannya dianggap pelengkap. Sehingga Umat Islam pada saat itu cenderung mendalami ilmu agama sehingga mengesampingkan ilmu nonagama. Hal ini lah yang mengakibatkan Umat Islam terbelakang dalam hal sains dan teknologi, yang selanjutnya peradabannya juga terbelakang.
Menanggapi hal tersebut, ilmuan-ilmuan Muslim akhir abad ini berinisiatif untuk mengembalikan hakikat Pendidikan Islam yang di dalamnya tidak terdapat pendikotomian ilmu, sehingga tidak ada gap antara keduanya. Kemudian untuk mengejar ketinggalan terhadap Barat, mereka melanjutkan dengan islamisasi ilmu pengetahuan yang bersandarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Karena kalau diterima apa adanya, maka mau-tidak mau akan terjangkiti pendikotomian ilmu lagi. Kalau melihat sejarah dikotomi ilmu, bahwa dikotomi muncul pertama kali di Barat, maka semua pengetahuan yang ada sekarang (tentunya produk Barat) masih mengandung unsur dikotomik. Makanya perlu diadakan islamisasi.

PEMBAHASAN
Sejarah Munculnya Dikotomi Ilmu
Dalam kajian historis, dikotomi ilmu mulai muncul bersamaan atau setidak-tidaknya beriringan dengan masa renaissance di Barat. Dalam perkembangannya, memiliki sejarah yang panjang dan mengenaskan. Pada mulanya kondisi sosio-relegius maupun sosio-intelektual, dikuasai oleh gereja. Kebijakan-kebijakannya mendominasi dalam berbagai aspek kehidupan. Ajaran-ajaran Kristen dilembagakan dan menjadi penentu kebenaran ilmiah. Bahkan semua penemuan hasil dari penelitian ilmiah dianggap sah dan benar jika sejalan dengan doktrin-doktrin gereja. Akhirnya, temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan doktrin-doktrin tersebut, harus dibatalkan demi supermasi gereja. Sedangkan jika para ilmuan pada saat itu tidak mau mengikuti aturan semacam itu, maka pihak gereja akan menanganinya dengan cara kekerasan. Dalam kenyataannya, ternyata banyak para ilmuan yang menentang peraturan tersebut dan tetap berpegang teguh terhadap penemuan ilmiahnya, akhirnya mereka menjadi korban kekejaman gereja. Pun akibat dari tekanan tersebut, para ilmuan melawan kebijakan gereja yang semacam itu. Mereka mengadakan koalisi dengan raja untuk menumbangkan dominasi kekuasaan gereja. Pada akhirnya koalisi yang diadakan berhasil, maka tumbang lah kekuasaan gereja. Dengan tumbangnya dominasi gereja, maka dengan sendirinya muncul lah renaissance. Dalam kelanjutannya, masa renaissance ini melahirkan sekulerisasi. Kemudian dalam sekulerisasi ini melahirkan dikotomi ilmu.
Ajaran-ajaran agama (dalam hal ini Kristen yang dilembagakan oleh gereja) secara konseptual dan aplikatif dipandang sebagai hambatan yang serius bagi kreatifitas ilmuan dan tentu juga bagi kemajuan peradaban. Lahirnya sekulerisasi yang kemudian menimbulkan dikotomi adalah dalam rangka membebaskan ilmuan untuk berkreatif melalui penelitian, penggalian, maupun percobaan ilmiah tanpa dibayang-bayangi ancaman gereja. Dalam hal ini kalau dikaitkan dengan dialektikanya Hegel, maka gereja dianggap sebagai tesis, sedangkan sekulerisasi dianggap sebagai antitesis. Karena sekulerisasi sejak dari mulanya lahir senantiasa mengembil posisi yang berlawanan dengan pihak gereja. Selanjutnya sekulerisasi yang berimplikasi adanya dikotomi itu memasuki wilayah ilmu pengetahuan modern.
Dalam perkembangan selanjutnya, Mujamil Qomar (2005) dalam bukunya Epistimologi Pendidikan Islam mengutip dari Ismail Raji Al-Faruqi bahwa Barat memisahkan kemanusiaan (humanitas) dari ilmu-ilmu sosial, karena pertimbangan-pertimbangan metodologi. Memang secara metodologis, menurut tradisi Barat bahwa standarisasi ilmiah, ilmu apa pun termasuk ilmu sosial adalah adanya obyektivitas. Tidak boleh terpengaruh oleh tradisi, idiologi, agama, maupun golongan, karena ilmu harus steril dari pengaruh faktor-faktor tersebut. Sedangkan faktor kemanusiaan, lebih sering menekankan pendekatan rasa manusiawi dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga lebih mengesampingkan obyektivitas. Pada akhirnya pertimbangan kemanusiaan cenderung menggunakan moral dalam mengukur suatu kebenaran, sehingga menganaktirikan obyektivitas. Ini dapat dibuktikan dengan memihaknya ilmu-ilmu sosial pada obyektivitas, dan kemanusiaan terhadap moral, ketika terjadi benturan antara keduanya. Dalam hal ini agaknya memang susah untuk dikompromikan.
Memang kalau dipandang dari perspektif kemanusiaan, pertimbangan moral justru memberikan keputusan yang bijaksana. Tetapi kalau dipandang dari sudut ilmu, pertimbangan tersebut malah dianggap menodai kebenaran, karena mengedepankan subyektivitas. Misalnya seorang yang kelaparan mencuri ayam milik orang lain, sekedar menghilangkan rasa laparnya. Kalau dilihat dari kedua sudut pertimbangan tadi, maka akan terjadi keputusan yang berbeda, bahkan keduanya saling bertolak belakang. Secara kemanusiaan, mencuri yang seperti itu, tidak perlu mendapatkan hukuman, bahkan kalau perlu harus dibebaskan, karena tindakan tersebut guna menjaga jiwa agar tetap hidup. Sedangkan kalau secara pertimbangan obyektif, pencuri itu harus dihukum sebagai wujud dari tegaknya hukum yang tak kenal dengan diskriminasi.
Mujamil Qomar (2005) menambahi dengan mengutip dari Ziauddin Sardar, bahwa selain dikotomi dengan pertimbangan moral (subyektif) dan obyektif, juga antara nilai dan fakta, realitas obyektif dan nilai-nilai subyektif, antara pengamat dan dunia luar. Sedangkan antara keduanya terpisah dan pada posisinya masing-masing. Dalam pandangan Barat, fakta tetap fakta, tidak bisa diwarnai dengan nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini, dicontohkan seperti halnya fakta eksata, katakanlah sifat air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, adalah tidak bisa dipengaruhi oleh nilai tertentu. Misalnya juga dalam perpolitikan, pada dasarnya setiap orang lebih mengejar profit (keuntungan), ketika menjadi penguasa cenderung bersifat otoriter, sedangkan rakyat lebih bersifat demokratis. Ini sebagai fakta sosial, sehingga nilai tetentu tidak bisa mengubah kecenderungan tersebut, seperti halnya rakyat berubah menginginkan tindakan otoriter terhadap dirinya sendiri.
Dalam hal tersebut dikarenakan bahwa nilai lebih bersifat ide (meminjam bahasanya Plato), sehingga ia bersifat abstrak, tidak bisa disentuh oleh panca indra, ia hanya bisa dihayati. Sedangkan yang dapat ditangkap adalah perbuatan yang mengandung nilai itu. Nilai berbeda dengan fakta, ia bukan fakta, bahkan di Barat nilai harus dipisahkan dari fakta. Kemudian fakta berbentuk kenyataan (realitas) maka ia konkret, sehingga dapat diketahui. Soal pengetahuan adalah soal kebenaran, sedangkan penghayatan adalah soal kepuasan. Persoalan kepuasan adalah persoalan hati, maka soal nilai bukan benar atau salah, dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak, sehingga nilai sangat subyektif.
Begitu juga setiap tindakan manusia digerakkan oleh nilai-nilai. Sedangkan sesuatu yang dipandang berharga, berarti mengandung nilai. Padahal tindakan atau perbuatan yang sama bisa memiliki nilai dan penghargaan yang berbeda. Ini bisa dicontohkan dengan perampokan yang disertai pembunuhan adalah kejahatan sedangkan membunuh musuh pada waktu perang adalah sebuah kebanggaan yang tentunya merupakan tindakan terpuji. Dari keduanya mempunyai fakta yang sama, yaitu pembunuhan, tetapi mempunyai nilai yang berbeda.
Lain halnya dengan pemisahan antara pengamat dengan dunia luar (obyek yang diamati) karena obyek menyatakan fakta adanya, seedangkan pengamat selalu dipengaruhi oleh latar belakang intelektualnya, sudut pandangnya, dan kecendrungannya dalam melihat suatau obyek, sehingga dalam pengamat ini memiliki berbagai penafsiran. Suatu obyek menunjukan kenyataan yang masih murni, sedangkan pengamat memiliki kecenderungan untuk memberikan penilaian-penilaian yang justru memberikan pemaknaan yang bisa mengurangi obyek itu. Oleh karena itu, pengamat tidak boleh melibatkan sesuatu yang ada pada dirinya ke dalam obyek. Dengan kata lain pengamat harus menjaga jarak dengan obyek pengamatan. Sebaliknya, obyek harus dinyatakan sesuai dengan kenyataan yang ada padanya tanpa ditambahi dan dikurangi sedikit pun. Kenyataan yang ada ini lah yang bisa dipegangi oleh ilmu sebagai suatu kebenaran.

Masuknya Dikotomi dalam Islam
Pada lima abad pertama Islam (abad ke-7 sampai 11 M.), para ilmuan muslim tidak mengenal pendikotomian ilmu. Karena pada saat itu, ilmu pengetahuan berpusat pada individu-individu, bukannya sekolah-sekolah. Kandungan pemikiran Islam juga bercirikan usaha-usaha individual. Ciri utama pertama dari ilmu pengetahuan tersebut adalah pentingnya individu guru. Sang guru, setelah memberikan pelajarannya seluruhnya, secara pribadi memberikan suatu sertifikat (ijazah) kepada muridnya yang dengan demikian diizinkan untuk mengajar. Ijazah tersebut kadang-kadang diberikan hanya untuk suatu pelajaran tertentu saja, suatu kitab tertentu saja, bahkan berlaku untuk beberapa matapelajaran.
Pada perkembangan selajutnya, yaitu pada akhir abad ke-11, menjelang abad ke-12 M., dikotomi ilmu mulai menjangkiti Islam, pemisahan antara ilmu agama dan umum mulai digencarkan. Yang pada saat itu, beberapa proses dan penyebab pendikotomian ilmu telah ditemukan.
Madrasah, yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol Negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemundurandan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebanarnya dari kemunduran tersebut, walaupun tentu saja, ia mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut. Karena memang kurikulum pada saat itu hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, sehingga ilmu-ilmu nonagama tidak diajarkan. Sehingga Umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang pengetahuan dan peradaban, karena ilmu-ilmu agam cenderung mengajarkan hubungan vertikal saja. Misalnya pada madrasah Nizamiyyah, bahwa apa yang diajarkan di dalamnya masih terbuka untuk didiskusikan. Yang perlu dicatat adalah pada masa itu ada dikotomi antara ilmu agama dan nonagama. Kemenangan sunni pada masa ini, tidak diikuti dengan apresiasi semangat pencarian ilmu secara umum. Hal ini berarti bahwa ilmu-ilmu nonagama mutlak tidak diajarkan di sana.
Susunan dalam ilmu-ilmu keagamaan ini dibuat sedemikian rupa hingga membuatnya tampak swa-sembada (self-suffi-cient); ilmu-ilmu tersebut tidak hanya mengisi tempat mereka sendiri saja. Semua ilmu pengetahuan yang lain adalah tambahan-tambahan yang tak perlu, kalau lah tidak sama sekali dikutuk. Hal ini dapat dibuktikan mengutip dari perkataan as-Syathibi, bahwa mencari ilmu apapun juga yang tidak langsung berhubungan dengan amal adalah terlarang. Ini merupakan ciri khas ulama’ zaman pertengahan. Sikap seperti ini, bila ditujukan pada pemikiran yang tidak realistis dan sia-sia dan cukup valid, dan pragmatisme modern juga telah mengambil sikap korektif yang sama terhadap jenis-jenis pemikirang murni (pure thought, sejajar dengan pure science) di Barat. Kalau melihat latar belakang dari as-Syathibi (seorang fuqaha’), pernyataannya memberikan kedudukan yang mutlak terhadap ilmu hukum fikih, karena memang hukum fikih merupakan disiplin ilmu yang kental dengan amal.
Pendikotomian ilmu juga merupakan salah satu dari term al-Ghazali, ia berpendapat bahwa pada dasarnya ilmu dibagi jadi dua, yaitu; ilmu syari’ah dan nonsyari’ah. Ilmu syari’ah wajib mutlak didalami oleh setiap muslim, sedangkan nonsyari’ah sendiri dibagi lagi menjadi tiga, yaitu; ulumul mahmudah (ilmu-ilmu terpuji), ulumul mubahah (yang diperbolehkan), dan ulumul madzmumah (yang tercela). Dalam hal ini ilmu kedokteran, hitung, dan teknologi termasuk ilmu-ilmu nonsyari’ah yang terpuja, sehingga fardu kifayah bagi setiap muslim untuk menguasainya. Adapaun termasuk ilmu yang diperbolehkan misalnya; ilmu pasti, logika, teologi, politik, etika, dan ilmu alam. Sedangkan ilmu nujum, sihir, dan astrologi termasuk ilmu-ilmu yang tercela.

Penolakan Islam Terhadap Dikotomi Ilmu
Berbeda dengan Barat, yang senantiasa bersifat dikotomis dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, merupakan cara terbaik. Namun, bagi dunia Islam bisa mengandung bahaya. Pandangan dikotomi dapat mengancam realisasi Islam dalam kehidupan pribadi dan kebersamaan bermasyarakat, bahkan dikhawatirkan mendistorsi syari’ah. Akibat yang dirasakan di dalam masyarakat ilmu, seni, dan teknologi adalah menjadi wajarnya pendapat yang berpendirian ilmu, seni, dan teknologi adalah bebas nilai. Oleh karena itu, ilmu berkembang tanpa arah yang jelas dari perspektif kesejahteraan umat manusia. Apa pun keadaan yang menjadi konsekuensi dari ilmu, seni, dan teknologi tidak pernah mereka perhatikan. Bahkan kehancuran umat manusia sekalipun tidak dihiraukan, sebab ilmu, seni, dan teknologi tidak mengemban misi untuk mnyelematkan manusia dari kehancuran.
Mungkin saja kehancuran manusia mendapatkan pengesahan dan toleransi bagi para ilmuan, asalkan masih ada temuan-temuan baru –apapun bentuknya—untuk mengembangkan sains dan teknologi yang makin modern. Di Negara-negara maju, para ilmuan seperti berlomba mengembangkan sains dan teknologi yang mempunyai potensi destruktif sangat tinggi bukan saja terhadap komunitas lain, melainkan juga terhadap komunitasnya sendiri, karena masing-masing Negara maju menyimpan potensi yang membahayakan keselamatan umat manusia secara keseluruhan. Bisa dibayangkan jika saja beberapa negara maju terlibat perang dengan menggunakan kemampuan senjata dan rudal andalannya, hampir bisa dipastikan hancur lah dunia ini.
Dikotomi antara sains “keislaman” (salvational) dan “rasional”, antara pengetahuan yang esensial dan supervisial, mempunyai konsekuensi yang fatal bagi cara berpikir kaum muslimin. Dengan begitu mereka biasa berpikir untuk memisahkan secara antagonistis antara sains “keislaman’ dan sains “raisonal”. Dalam pemikiran mereka akan tertanam kuat bahwa sains “keislaman” berdasarkan wahyu, dogma, dan doktrin ajaran Islam semata yang tidak rasional, bahkan cenderung irasional. Sedangkan sains “rasional” adalah sains yang dikonstruk berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasio semata, sehingga mengesampingkan nilai-nilai relegius. Dengan begitu, maka sains “keislaman” cenderung sains yang anti rasio, sedangkan sains “rasional” cenderung sains yang anti agama (dalam hal ini Islam). Padahal sains “keislaman” tidak hanya melibatkan pertimbangan-pertimbangan rasional, tetapi sekaligus supra rasional.
Akibat yang lain adalah tersosialisasikan adanya pembelahan antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Pengetahuan umum di samping pengetahuan yang mencakup berbagai disiplin dan bidang kehidupan manusia secara kompleks dan plural, juga dimaksudkan sebagai ilmu yang tidak ada kaitan sama sekali dengan agama. Sedangkan ilmu pengetahuan agama dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan yang terbatas bahasannya pada persoalan-persoalan akidah, ibadah, dan akhlak semata. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan agama adalah ilmu pengetahuan yang wilayah bahasannya terbatas pada keimanan, ritual, dan ethik.
Selanjutnya Umat Islam akan mengalami salah paham terhadap Islam sendiri. Agama Islam yang seharusnya memiliki ajaran yang universal, ternyata disalahpahami, sehingga dianggap hanya memiliki ruang gerak pranata kehidupan yang sempit sekali. Oleh karena itu, pembagian pengetahuan yang bersifat dikotomis itu, tentu tidak diterima oleh Islam, karena berlawanan dengan kandungan ajaran Islam sendiri. Jika ini terjadi terus-menerus, maka akan menjadi malapetaka bagi masa depan umat dan peradaban Islam, sehingga harus ada usaha keras untuk meluruskannya dalam perspektif Islam.
Dalam konteks pendidikan Islam, dunia dalam pembahasan di sini tentu memiliki spectrum yang tidak sempit dan tidak dikotomis, yakni segala fasilitas untuk kepentingan pendidikan Islam, termasuk akal, alam, bumi, langit, dan alam sekitar. Abdrrahman Mas’ud (2002: 44) mengutip Hassan Hanafi, menyebutkan bahwa dalam masyarakat tradisional (termasuk Umat Islam dewasa ini), norma dan sumber pengetahuan hampir tidak ada yang diperoleh dari akal dan alam. Sebaliknya masyarakat modern yang sekuler memperoleh sumber kebenaran dari dua fasilitas tersebut. Dalam hal ini, sebenarnya Hassan Hanafi ingin mengatakan bahwa ajaran dasar Islam sesungguhnya tidak mengenal dikotomi itu, tetapi memilki watak dasar menjembatani dua gep tersebut.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Mujamil Qomar (2002: 115) menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, sains barat modern dibangun atas dasar semangat kebebasan dan penentangan terhadap doktrin ajaran Kristen, sehingga ia mencoba menampilkan pola berpikir yang berlawanan dengan tradisi pemikiran agama (Kristen) sebagai antitesis. Tetapi yang paling kelihatan, bahkan disisipkan ke dalam sains Barat modern adalah sekulerisasi. Konsep sekulerisasi disosialisasikan dan dipropagandakan sedemikian rupa di kalangan para ilmuan, mahasiswa, pelajar, kelompok-kelompok intelektual lainnya, dan masyarakat pada umumnya, untuk mendapatkan pembenaran-pembenaran secara ilmiah.
Ada beberapa kelompok masyarakat yang paling dirugikan akibat penerapan konsep sekulerisasi pengetahuan Barat modern itu. Mereka adalah kelompok-kelompok yang memilki ikatan moral dengan ajaran agama, terutama masyarakat Islam. Ketika mengikuti arus perkembangan sains modern dari Barat, mereka secara sadar maupun “terpaksa” harus menggantikan nilai-nilai relegius dengan nilai-nilai sekuler yang kontras. Selama ini agama Islam dipedomani sebagai juklak dalam menempuh kehidupan sehari-hari. Tidak ketinggalan juga, agama memilki peranan untuk mewarnai bangunan ilmu pengetahuan dan unsur-unsur lain yang terkait. Namun kenyataannya, masyarakat muslim seolah dipaksa untuk melaksanakan sekulerisme dalam seluk beluk kehidupan lantaran derasnya arus sekulerisasi. Secara riil sekarang ini mereka semakin menjauhi nilai-nilai relegius Islam. Kondisi ini lah yang menjadi keprihatinan para pemikir muslim, sebab bisa membahayakan keimanan (akidah) Islam.
Untuk itu, ilmuan muslim sedang manggagas islamisasi pengetahuan sebagai upaya untuk menetralisir pengaruh sains Barat modern, sekaligus menjadikan Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Mereka berupaya membersihkan pemikiran-pemikiran muslim dari pengaruh negatif kaidah-kaidah berpikir ala sains modern, sehingga pemikiran muslim benar-benar steril dari konsep sekuler. Al-Attas dikutip oleh Mujamil Qomar menyebutkan, bahwa islamisasi ilmu berarti pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekuler. Banyak pemahaman ilmu pengetahuan yang terlanjur tersekulerkan dapat digeser dan diganti dengan pemahaman-pemahaman yang mengacu pada pesan-pesan Islam, manakala “proyek Islamisasi pengetahuan” benar-benar digarap secara serius dan maksimal. Sebagai tindak lanjut dari gagasan normatif itu, para pemikir muslim harus berupaya keras merumuskan islamisasi pengetahuan secara teoritis dan konseptual yang didasarkan pada gabungan antara argumentasi rasional dan petunjuk-petunjuk wahyu.
Tujuan islamisasi pengetahuan secara substansial adalah untuk meluruskan pemikiran-pemikiran Umat Islam dari penyelewengan-penyelewengan sains modern yang sengaja ditanamkan. Fazlur Rahman menyarankan, bahwa tujuan kaum muslim untuk mengislamkan beberapa ilmu pengetahuan tidak akan bisa tercapai sepenuhnya, kecuali bila mereka secara efektif melaksanakan tugas intelektual memerinci suatu metafisika Islam yang berdasarkan al-qur’an. Suatu pandangan dunia Islam, pertama-tama harus lah, kalupun untuk sementara, diupayakan apabila berbagai lapangan khusus dari upaya-upaya intelektual mau dikoherenkan sebagai dijiwai oleh al-Qur’an.
Menurut Ismail Raji Al-Faruqi, yang dikutip oleh Mujamil Qomar menawarkan, bahwa kewajiban pemikir muslim adalah melakukan islamisasi, untuk mendefinisikan dan menerapkan relevansi Islam hingga ke item-itemnya di dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian konsep operasional dalam islamisasi yang ditawarkan adalah; 1. Penguasaan disiplin ilmu modern: penguraian kategoris, 2. Survei disiplin ilmu, 3. Penguasaan khazanah Islam: sebuah ontologis, 4. Penguasaan khazanah ilmiah tahap analisis, 5. Penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu, 6. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern: tingkat perkembangannya di masa kini, 7. Penilaian kritis terhadap khazanah Islam: tingkat perkembangannya dewasa ini, 8. Survei permasalahan yang dihadapi Umat Islam, 9. Analisis kreatif dan sentesis, 10. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam: buku-buku dasar tingkat universitas, dan 11. Penyebarluasan ilmu-ilmu yang telah diislamkan.
Apabila gagasan bagi modernisasi ilmu-ilmu Islam yang lama dan islamisasi yang baru mau diciptakan, maka kedua tonggak orisinal Islam –al-Qur’an dan al-Hadits—mesti ditegakkan kembali dengan tegar, agar semua konformistas-konformitas dan deformitas-deformitas Islam historis bisa dinilai dengan jelas olehnya. Kedua sumber itu harus difungsikan untuk menjadi pedoman atau juklak dalam menilai aktifitas berpikir mereka mulai dari kerangka berpikir, tujuan berpikir, cara-cara berpikir, dan orientasi berpikirnya. Dari kedua sumber itu lah dapat diketahui apakah kegiatan berpikirnya mengarah pada hasil-hasil yang positif-konstruktif sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
Dengan kata lain, kebenaran yang dicapai melalaui metode keilmuan Barat berada di belakang sebagai jawaban terhadap upaya-upaya penggalian ilmu pengetahuan, sedangkan kebenaran wahyu berada di muka (telah ditentukan) baru kemudian dicari bukti-buktinya melalui pendekatan atau metode tertentu. Implikasinya, kita tidak perlu mencari kebenaran Islam, karena kebenaran itu sudah ada. Kita hanya diwajibkan mencari dan menjelaskan bukti-bukti kebenarannya. Meskipun demikian, kita juga distimulasi untuk melakukan penggalian-penggalian ilmu yang sifatnya pengembangan agar dapat mencapai kemajuan dan kesejahteraan manusia secara keseluruhan tanpa diskriminatif sedikit pun.

KESIMPULAN
Dikotomi pada saat itu menyerang ke seluruh penjuru Umat Islam, dari pribadi ke komunitas Islam, dari raja sampai ke rakyat jelata, dari luar lembaga ke lembaga pendidikan, dan seterusnya. Era dikotomik ini ditandai dengan polarisasi yang tajam antara sunni dengan syi’ah (musuh bebuyutan, karena dalam catatan sejarah, mereka selalu bertikai), antara faksi-faksi dan sunni sendiri, serta ekstremitas fanatisme madzhab dan aliran teologi yang berlebihan.

PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan sebagai pertimbangan bersama, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Selanjutnya kritik dan saran selalu kami nantikan demi terciptanya kesempurnaan pada makalah kami, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kekurangan hanyalah milik kita bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Erlangga. 2005)
Rahman, Fazlur. Islam. (Bandung: Pustaka. Cetakan V, 2003)
Mas’ud, Abdurrahman. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik. (Yogyakarta: Gama Media. 2002)
Budi hardiman, Francisco. Kritik Ideologi. (Yogyakarta: Penerbit Buku Baik Yogyakarta. 2003)
Abdullah, Amin. Filsafat Kalam di Era Postmodernisme. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cetakan III, 2004)

Endnote
Sekulerisasi pada mulanya mempunyai pengertian pemisahan antara urusan dunia dan akhirat, tapi pada perkembangan selanjutnya digunakan dalam pemisahan antara urusan negara dan agama. Sebenarnya keduanya saling berkaitan, Negara mengurusi urusan dunia, di antaranya adalah interaksi sosial, hukum, dan hubungan yang sifatnya horizontal. Sedangkan agama lebih pada akhirat, karena di dalamnya terdapat hubungan vertikal (hubungan dengan Tuhan).
Dikotomi adalah pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan. Sedangkan dikotomi ilmu merupakan pembagian antara disiplin ilmu yang berdasarkan pada obyektivitas dengan pemihakan moral kemanusiaan sebagai pertimbangan ilmiahnya. Juga antara nilai dan fakta. Lebih lanjut lihat Prof. Dr. Mujamil Qomar, M. Ag, Epistimologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm.74-77.
Ibid, hlm. 75.
Ibid, hlm. 78.
Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, Cetakan ke-V, 2003), hlm. 269.
Ibid, hlm. 271.
Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 109.
Fazlur Rahman, Op. Cit., hlm. 271.
Abdurrahman Mas’ud, Op. Cit., hlm. 118-119.
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 78.
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 78.

Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 115.

Fazlur Rahman, Op. Cit., hlm. !59.
Mujamil Qomar, Op. Cit., hlm. 119

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s